Apakah alasannya, Orang Kesurupan Jin? Bag. 2

MENGAPA ORANG DI RUQYAH KESURUPAN JIN?
KARENA MEMBACA DAN MENDENGARKAN AYAT SAMBIL MENERAWANG SETAN/JIN
oleh: KH. Muhammad Luthfi Ghozali

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ , فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ ءَايَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan (nafsu syahwat), setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.Al-Hajj (22)52).

Rasul dan Nabi saja ketika ibadah dengan hati sedang tidak khusu’ atau lalai, bisa dimasuki godaan setan jin, apalagi orang-orang awam seperti kita yang sedang menerawang setan jin, maka tentunya menjadi santapan empuk para setan jin.

Dengan ayat di atas urusannya jadi semakin jelas, mengapa orang diruqyah gampang kesurupan jin. Jangankan manusia biasa, Rasul dan Nabi sekalipun, ketika dalam pelaksanaan ibadah yang mereka lakukan, baik dengan dzikir maupun pikir, meski itu dilakukan dalam rangka tugas risalah dan nubuwah, jika di dalamnya terdapat kesalahan, yakni terbukanya ruang kosong (melamun urusan duniawi) sehingga kemauan nafsu berbalik menjadi pendorong ibadah, maka setan Jin segera terfasilitasi menyusupkan was-wasnya dalam hati mereka. Hanya saja “Allah segera menghilangkan was-was setan tersebut dan menguatkan ayat-ayat-Nya”. Hal tersebut bisa terjadi ?? karena memang setan Jin sudah sangat dekat dengan manusia.

Terkadang was-was setan itu berupa suara dzikir yang diperdengarkan dari jauh bahkan seperti suara orang dzikir berjama’ah yang semakin lama semakin menusuk perasaan. Dengan tipu daya setan jin seperti ini tidak banyak orang memahami, hingga godaan yang mematikan itu oleh orang yang sedang dzikir itu dikira hal positif yang didatangkan Allah baginya. Ketika suara-suara itu semakin diikuti oleh perasaan, maka tahap berikutnya kesadaran orang yang sedang khusu’ itu ditarik masuk ke dalam wilayah dimensi alam Jin, saat itu berarti orang tersebut sudah dikuasai setan Jin.

Kejadian seperti ini sering dialami oleh orang ahli mujahadah. Kejadian tersebut jauh lebih halus dibanding proses masuknya tipu daya setan jin lewat bacaan ruqyah. Seandainya para ahli ibadah itu tidak dilindungi oleh sistem perlindunan Allah untuk menangkal gangguan setan bagi hamba-hamba yang dicintai, barangkali tidak ada seorangpun dari orang ahli ibadah yang selamat dari tipu daya setan jin.

Adapun keadaan orang-orang yang diruqyah, Jin tidak harus repot-repot mengkondisikan keadaan yang demikian itu, karena para pelaku ruqyah itu telah mengkondisikan diri sendiri untuk rasuki jin, bahkan dipersiapkan sejak awal. Dengan memaksakan diri berkonsentrasi mendenarkan ayat-ayat yang dibaca sambil pikirannya menerawang jin, mereka tidak sadar bahwa perbuatan tersebut justru mengundang jin memasuki wilayah kesadaran mereka sendiri. Terbukti demikian mudahnya orang diruqyah itu kesurupan jin. Hal tersebut menunjukkan bahwa para pelaksana ruqyah itu tidak pengalaman menghadapi tipu daya setan jin, hingga hal yang sedemikian membahayakan itu tidak disadari, bahkan terkadang mereka melakukan ruqyah itu dengan kebanggaan dan kesombongan. Seakan merasa yang paling tidak syirik, sedangkan jimat-jimat yang mereka bakar sebelum pelaksanaan ruqyah itu merupakan perbuatan yang paling syirik.

Namun bukan wilayah syirik atau tidak syirik itu yang menjadi tujuan penulisan, karena wilayah itu merupakan wilayah hukum syari’at yang memerlukan kecermatan dalam mengambil keputusan, akan tetapi urusan yang lebih sederhana dan tampak mata saja, yaitu demi keselamatan anak cucu kita dari akibat kesalahan yang kita perbuat sendiri dari bahaya setan jin yang setiap saat selalu siaga untuk menerkam mangsanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمَ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (QS:29/38)

Ciri-ciri orang yang terjebak tipudaya setan jin adalah orang yang merasa benar sendiri. Merasa amalannya paling benar, paling baik dan paling bersih dari kesalahan dan syirik, terlebih dengan suka menyalahkan keyakinan dan amalan orang lain.

Jika orang melaksanakan ibadah, namun sesudahnya malah merasa mulia hinga melihat orang lain lebih hina dibandingkan dirinya, maka itu pertanda paling jelas bahwa orang tersebut telah masuk perangkap tipu daya setan jin. Mereka menjadi sombong karena merasa mempunyai nilai lebih dibandingkan orang lain, dan apabila kondisi tersebut dilahirkan dengan ucapan atau perbuatan maka orang tersebut telah menjadi takabbur. Dengan ibadah yang dilakukan seharusnya menjadikan orang merasa hina di hadapan Dzat yang Maha Mulia, lebih mengenali aib diri sendiri, mengenali keterbatasan, semakin dapat melihat dosa-dosa sendiri, sehingga dapat meningkatkan semangat bertaubat kepada-Nya.

Singkat kata apabila ibadah dan dzikir membuahkan rasa syukur kepada Allah, berarti ibadah itu sudah benar, yang demikian itu telah diisyaratkan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. QS:2/152.

Menjadi semakin jelas, jika pelaksanaan “Ruqyah” tersebut masuk dalam wilayah ibadah, maka buahnya tidak hanya menjadikan orang yang asalnya tidak sadar menjadi sadar saja, namun juga menjadikan para pelakunya mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Jika tidak demikian, bahkan menjadikan orang yang asalnya sadar menjadi kesurupan jin, menjadi gila walau sebentar, berarti yang dilakukan itu bukan ibadah.

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Makalah Agama Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply