Apakah alasannya, Orang Kesurupan Jin? Bag. 1

MENGAPA ORANG DI RUQYAH BISA KESURUPAN? KARENA ORANG BERAMAL TANPA GURU
oleh: KH. Muhammad Luthfi Ghozali

Ada sebuah ungkapan Ulama menyatakan, “Siapa beramal tanpa guru maka gurunya setan” . Barangkali ungkapan tersebut yang paling pas untuk menjawab fenomena Ruqyah yang beberapa tahun silam marak dilakukan sekelompok orang yang hanya memahami ilmunya tapi kurang memafahami prakteknya. Mereka melaksanakan amalan ruqyah tersebut secara bid’ah dalam arti ngarang sendiri padahal sebelum itu belum pernah ada orang yang melakukannya, sekarang malah diikuti oleh orang-orang yang memanfaatkan ketenaran ruqyah tersebut untuk kepentingan bisnis pribadi, pengobatan gratis katanya.

Firman Allah SWT. Surat al-A’rof ayat 201:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS:7/201)

Yang dimaksud “Thooifum minasy-Syaithon” atau was-was dari setan, adalah godaan setan kepada orang yang suka beramal atas dasar bartakwallah yang bentuk wujudnya terkadang berupa bisikan diluar bisikan manusia itu sendiri, bahkan bisikan tersebut terkadang lebih dominan dari bisikan hatinya sendiri.
Contoh misal: Ada orang melihat orang di hadapannya dalam pandangan kasat mata adalah orang baik-baik, baik pekerjaan maupun ucapan, tetapi dalam perasaannya ada bisikan mengatakan sebaliknya, orang tersebut dikatakan jahat. Terkadang sebaliknya, ketika melihat buruk, bisikan itu malah mengatakan baik. Akibatnya, orang tersebut menjadi bingung dengan bisikan hatinya sendiri, karena akalnya mengatakan begini sedang batinnya mengatakan lain. Ketika bisikan tersebut semakin lama jadi semakin membingungkan, akhirnya ia menjadi lupa diri. Klimaksnya, orang tersebut menjadi gila.

Indikasi orang yang terkena godaan jin semacam ini, orang yang asalnya periang mendadak jadi pendiam. Menjadi tidak suka bicara dan bergaul dengan orang lain, sehari-hari pekerjaannya hanya mengurung diri di dalam kamar dan terkadang berbicara sendirian, tidak banyak suka dengan perbuatan orang lain karena menurutnya perbuatan tersebut salah. Merasa hanya dirinya sendiri yang benar, mengaku pernah didatangi ruh para waliyullah dan bahkan mendapat ilmu langsung dari para Wali dan para Nabi. Para Wali dan Para Nabi itu katanya datang sendiri ke kamarnya, dan bahkan ada yang mengaku bertemu langsung dengan Allah Ta’ala, mendapat wahyu sebagaimana para Nabi as. Namun ketika penyakit itu sudah semakin parah, dia malah meninggalkan seluruh pemilikannya bahkan keluarganya yang dahulu sangat dicintai alias menjadi gila.

Banyak kejadian seperti ini kita temui di masyarakat, dan kebanyakan orang yang terkena penyakit seperti itu justru orang yang suka beribadah dan ahli mujahadah. Mengapa bisa demikian..?, karena ibadah dan mujahadah yang ditekuni itu tanpa mendapat bimbingan dari seorang guru ahlinya, yakni para guru mursyid yang ahli membimbing ruhani para murid-muridnya. Akibat dari perbauatn tersebut, maka ibadah dan mujahadah tersebut hanya dilakukan atas dasar dorongan kemauan emosional dan rasional saja dan gersang dari pancaran spiritual.

Kongkritnya kejadian, ketika dorongan emosionalitas seseorang telah mendesak wilayah rasionalitas hingga pertahanan rasionalitas menjadi lemah dan keadaan orang tersebut menjadi antara sadar dan tidak sadar, saat seperti itulah yang sangat ditunggu-tunggu oleh sekawanan setan Jin untuk memasukkan sulthon (tehnologi) nya di dalam wilayah kesadaran manusia. Dengan tehnologi tersebut setan jin dapat meremot atau memancarkan perintahnya kepada mangsanya dari jarak jauh.

Adapun orang bartakwa yang dimaksud ayat di atas adalah orang yang suka berdzikir kepada Allah, boleh dengan sholat, dengan membaca kalimah thoyyibah, dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim, namun tujuannya supaya menjadi orang yang lebih baik dalam arti sadar, mengenal dirinya dan mengenal tuhannya. Tidak malah sebaliknya, seperti pelaksanaan ruqyah tersebut, yaitu orang yang asalnya sadar dan sehat malah jadi kesurupan jin, hilang ingatan atau gila walau sebentar, bahkan muntah-muntah dan kencing di tempat. Mengapa amalan yang mengerikan seperti itu dikatakan ruqyah dalam arti mengobati orang sakit…????

Seharusnya ruqyah itu dilakukan untuk membebaskan orang dari kesurupan jin, atau menyembuhkan orang yang jiwanya tidak sehat menjadi sehat kembali, bukan sebaliknya. Ruqyah bukan untuk menjadikan orang kesurupan jin yang bisa berakibat orang sakit lahir batin dan bahkan gila secara permanen.

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Makalah Agama Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply