Saling Tolong Menolong antar Mukmin

الحمد لله الذى تفرّد بالعزّ والجلال وتوحّد بالكبرياء والكمال أحمده على كلّ حال حمدا يقابل نِعَمه ويدافع نِقَمه ويساوى زيادة نِعَمِه فى الحال والمآل وأشهد أن لااله الا الله وحده لا شريك له ذو المنّ والافضال وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله المنقِذُ من الضلال والداعى الى أشرف الخصال ومبـيِّن الحرام من الحلال صلى الله عليه وسلم و على أصحابه وآله خير آل اما بعد فيا عباد الله اتقوا الله تعالى واسْتَعِدُّوا للموت باِكثار الصالحات مادامتِ الحياة.
عن عبد الله بن عباس رضي عنهما أن النـبي صلى الله عليه وسلم بعث معاذا إلى اليمن فقال: اِتَّـقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّـهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ (رواه البخارى و مسلم)

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma. sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengutus Mu’adz ke Yaman, seraya bersabda, “Berhati-hatilah terhadap doa orang yang dizhalimi, karena doa itu tidak terhalang dengan Allah.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

يا معاشر المؤمنين رحمكم الله
Hadits yang baru saya bacakan tadi adalah penggalan dari wasiat Nabi yang disampaikan kepada Mu’adz bin Jabal ketika beliau mengutusnya untuk pergi ke Yaman dan menjadi qadhi di sana. Tepatnya itu terjadi pada tahun ke sepuluh hijrah. Wasiat itu diawali dengan peringatan Rasulullah kepada Mu’adz, ‘Sesung-guhnya kamu akan datang kepada sebuah kaum dari golongan Ahli Kitab. Jika kamu sudah sampai kepada mereka maka serulah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Jika mereka menaatimu maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka lima shalat selama sehari semalam. Jika mereka juga menaatimu maka kabarkanlah selanjutnya bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka mengeluarkan shadaqah, pemberian orang-orang kaya untuk dibagikan kepada yang miskin. Jika mereka juga telah menaatimu maka jauhilah olehmu harta benda mereka yang paling berharga dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang didzalimi

Doa orang yang didzalimi kepada orang yang mendzaliminya adalah doa yang paling tulus karena didasarkan pada keinginan untuk keluar dari tekanan kedzaliman itu. QS. Asy Syura:

“41. Dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.”

Doa itu adalah doa panas yang mengepul dari api kemarahan yang tersulut jauh di dalam jiwa. Doa itu melambung tinggi ke angkasa raya. Tinggi sekali, laiknya peluru yang dilepaskan dari meriam, melebihi batas pandang. Dan. itu pun masih tetap terus menembus angkasa raya tanpa terhalang ataupun menerpa bidang pantul. Karena panas maka ia pun membakar langit dan meluluhkan bangunan yang ada padanya, sampai akhirnya Rabb-nya menerimanya sebagai sesuatu yang dingin dan dengan penuh kedamaian untuk orang yang berdoa, tapi untuk orang yang mendzaliminya seperti laiknya api dan bara. Di sini tampak kesan bahwa Rasulullah menyampaikan ide ini sebagai penyimpulan firman Allah, QS. An Nisa: 148

148. Allah tidak menyukai Ucapan buruk[371], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[372]. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

[371] Ucapan buruk sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya.
[372] Maksudnya: orang yang teraniaya oleh mengemukakan kepada hakim atau Penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya.

يا معاشر المؤمنين رحمكم الله

Doa orang yang didzalimi memang dilindungi ketentuan syariat, merujuk firman Allah dalm QS. An Nisa:148 yang baru saya bacakan tadi
إلا من ظلم (kecuali oleh orang yang dianiaya), dan didengar karena setelah istitsna (pengecualian) ditegaskan lagi dengan firman-Nya,

Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hal ini juga dikuatkan lagi dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad hasan,

قبولُ دعوة المظلوم وإن كان فاجرا وأن فجورَه على نفسه لايقِف دون دعوتِه

yang intinya menjelaskan, diterimanya doa orang yang dizhalimi meski ia seorang yang berbuat maksiat. Kemaksiatan yang ia perbuat adalah masalahnya dengan dirinya sendiri yang tidak dapat menghentikan laju doanya. Dalam hadits shahih lain disebutkan bahwa:

أن إجابة الدعاء على ثلاث مراتب: إما أن يجاب الداعى إلى ماطلب وإما أن يُدخِّر له أفضالُ منه وإما أن يدفِّع عنه من السوء مثلُه

Bentuk pengabulan doa itu ada tiga: Dikabulkan apa yang dimohon oleh orang yang berdoa itu, ditampung agar menjadi kebaikan baginva, dan dilindungi dari kekejian yang sama.
Karena itu janganlah kita kaget bila apa yang kita mohon dikabulkan tidak persis seperti yang kita mohon padahal kita didzalimi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana sehingga ia lebih tahu dengan hikmah-Nya untuk tidak mengabulkan apa yang kita mohon. QS. An Nur: 19

“19……… dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”

Rasulullah memperingatkan perihal doa ini kepada seluruh pasukannya, pesuruhnya dan qadhinya, dan memerintahkannya untuk lebih berhati-hati dan melindungi diri, padahal bentuk perlindungan terhadap diri sendiri itu hanya dapat ditempuh dengan menjauhkan diri dari sebab-sebab yang dapat mengakibatkan doa itu terucap, yakni dengan tidak berlaku dzalim terhadap orang yang berada di bawah kekuasaannya dengan menyakitinya, atau dalam hartanya dengan memotong pendapatannya. Dengan dalih zakat penduduk lalu divvajibkan mengeluarkan hartanya yang paling berharga atau hewan piaraannya yang paling mahal, tanpa memberikan keringanan dengan menerima yang tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu buruk. Karena kewajiban yang tidak bisa dikompromi itu akan dapat menyulut api amarah penduduk, sehingga lisannya dengan ringan tiba-tiba mengucap kata-kata yang cukup tajam dan mengeluarkan semua perasaan hatinya, yang selanjutnya dapat memancing timbulnya doa itu. Tidak pilih kasih kepada golongan orang kaya, melihat orang-orang fakir dengan sebelah mata, tidak dengan mudah memaafkan orang yang telah berbuat dzalim itu hanya karena posisinya lebih tinggi dan lebih terhormat, dan tidak pula menerima uang suap atau permohonan keringanan dengan jalan yang tidak benar. Seorang qadhi haruslah dapat membuang jauh-jauh sifat pilih kasih ini dan mampu memeratakan perasaan itu, mengangkat orang yang lemah dari tekanan orang kuat, mampu menimbang mana yang hak dalam keputusan yang ia ambil, berbuat adil dalam segala keputusannya, dan melakukan kepatutan-kepatutan lainnya dalam posisinya sebagai seorang wali maupun qadhi. Jika kebijaksanaan-kebijaksanaan itu telah ia laksanakan dengan baik maka ia akan menjadi seorang qadhi surga dan menjadi seorang imam besar yang selalu berada di bawah perlindungan Allah kelak pada hari yang tidak ada lagi perlindungan selain perlindungan-Nya.

يا معاشر المؤمنين رحمكم الله
Wahai para wali dan qadhi, wahai para penguasa dan para pemimpin, Allah telah mempercayakan kepada kalian kepemimpinan dan menjadikan pula hak-hak serta amanat-amanat itu berada di bawah kedua tangan kalian, maka takutlah kepada Allah ketika kalian menyentuhnya. Tunaikanlah se¬gala amanat itu kepada yang berhak. Janganlah kalian potong hak seseorang, janganlah kalian curangi pekerjaan seseorang dan janganlah kalian rampas kehormatan angan-angannya. QS. An Nisa:58

58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

Dan, ketahuilah bahwa orang yang kita zhalimi atau hinakan itu akan ditolong dan dibantu Allah. Ia menjadi wali dan pembimbingnya. Sesungguhnya Allah menerima doanya, mendengar pengaduan-nya. memberikan balasan kepada orang yang telah berbuat dzalim kepadanya dan mengambilkan haknya dari tangan orang yang telah mendzalimi-nya. Takutlah kita kepada Ad-Dayyan dan berhati-hatilah kepada Yang Maha Kuat. QS. Ibrahim: 42

“42. Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”,

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Kumpulan Khutbah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply