MENYINGKAP ALAM GHOIB PART 2

OLEH KH. Muhammad Luthfi Ghozali

INDERA LAHIR UNTUK MERASAKAN ALAM LAHIR
INDERA BATIN UNTUK MERASAKAN ALAM BATIH

3. Seorang hamba dengan Ilmu dan Kehendak Allah s.w.t berpotensi melihat alam gaib.

Ketika Baginda Nabi s.a.w dimi’roj-kan ke langit dengan kawalan malaikat Jibril, disana Beliau dipertontonkan alam yang masih gaib. Keadaan surga, neraka dan keadaan-keadaan yang akan menimpa umatnya di dunia yang belum terjadi. Dengan peristiwa ini menunjukkan bahwa yang dimaksud alam gaib itu bukan alam Jin atau alam Malaikat dan bahkan alam Ruh (ruhaniah) melainkan alam yang akan datang. Kehidupan Jin dan Malikat itu sesungguhnya masih berada di alam Syahadah namun berada di dimensi yang lain dari dimensi dunia.

Surga dan Neraka dikatakan gaib karena keberadaannya setelah hari kiamat. Mati dikatakan gaib karena datangnya pada waktu yang akan datang. Jadi, hikmah terbesar yang semestinya bisa dicapai oleh para SALIK atau pengembara ruhaniah dari perjalanan ruhani yang mereka lakukan untuk berisro’ mi’roj kepada Allah s.w.t adalah terbukanya hijab-hijab basyariah hingga dengan matahati atau firasatnya dapat melihat alam gaib atau apa-apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kejadian-kejadian yang terjadi pada masa dahulu dan yang akan datang dikatakan gaib. Alam barzah dan alam akherat, tentang neraka, tentang shiroth, semuanya dikatakan gaib karena kejadiannya terjadi pada masa yang akan datang. Demikian pula sejarah-sejarah para Nabi terdahulu dikatakan gaib, karena terjadi pada masa lampau. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir beserta mereka” . (QS. Ali Imran; 3/44)

Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada orang ingin mengetahuinya, maka jalannya hanya satu yaitu dengan mengimani apa-apa yang sudah disampaikan oleh Wahyu, kemudian ditindaklanjuti dengan amal ibadah (mujahadah dan riyadhah). Apabila Allah s.w.t menghendaki, maka orang tersebut akan dibukakan matahatinya atau mendapat futuh dari-Nya. Allah s.w.t telah mengisyaratkan demikian dengan firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allahlah Kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”. (QS. al-An’am; 6/59)

Apa yang akan terjadi dalam waktu satu jam mendatang dikatakan gaib. Karena tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang yang mempunyai firasat tajam kemudian dia seakan-akan mengetahui apa-apa yang akan terjadi, hal itu bisa terjadi, karena dia melihat dengan “Nur Allah”. Demikianlah yang disebutkan di dalam sabda Rasulullah s.a.w, yang artinya:”Takutlah kamu akan firasatnya orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya dia melihat dengan Nur Allah”.

Terkadang dengan kekuatan cinta, firasat orang bisa menjadi tajam dan tembus pandang kepada orang yang dicintai. Seorang ibu misalnya, yang sedang jauh dengan anaknya, kadang-kadang tanpa sebab, mengalami perasaan yang galau, ketika dia mencoba menghubungi anaknya, ternyata anaknya sedang sakit. Itu terbukti bahwa kekuatan cinta mampu menembus beberapa lapisan dimensi yang terjaga. Kalau kekuatan cinta antara sesama makhluk saja—bahkan kadang terjadi dalam kondisi yang masih haram misalnya, mampu menjadikan tajamnya firasat, apalagi cinta seorang hamba terhadap Tuhannya.

Seorang hamba yang selalu bertafakkur, memikirkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah s.w.t hal tersebut semata-mata terbit dari dorongan rasa cinta dan rindu, maka hatinya akan menjadi bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, bersih dari hijab-hijab yang menutupi dinding penyekat alam batinnya sehingga matahatinya menjadi cemerlang dan tembus pandang. Demikian itu telah ditegaskan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. al-Ankabut; 29/69)

Apa saja yang terjadi di waktu yang akan datang, dari urusan rizki, urusan jodoh, urusan mati dan sebagainya, baik penderitaan ataupun kebahagiaan, yang terjadi di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, semua itu dikatakan hal yang gaib, karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Adapun Jin dan Malaikat dan bahkan Ruh atau ruhaniah tidaklah termasuk dari golongan Alam Gaib dalam arti yang disebut Metafisika melainkan dari golongan Alam Syahadah atau yang disebut Alam Fisika, hanya saja fisiknya berbeda dengan fisik manusia. Bau harum misalnya, meski tidak tampak fisiknya, bebauan itu tidak termasuk Alam Gaib tapi Alam Syahadah, atau alam yang bisa dirasakan, hanya saja untuk merasakannya membutuhkan alat, dan alat itu ialah indera penciuman.

Seandainya ada orang yang tidak mempunyai indera penciuman atau indera penciumannya sedang rusak misalnya. Ketika di suatu tempat orang lain dapat mencium bau harum sedangkan orang tersebut tidak, hal itu bukan disebabkan karena bau harum itu tidak ada, tapi karena indera penciuman orang tersebut sedang tidak berfungsi. Demikian juga terhadap suara, akan tetapi untuk merasakan suara membutuhkan alat yang berbeda. Kalau merasakan bebauan dengan alat hidung, maka merasakan suara dengan alat telinga. Orang tidak bisa merasakan bau harum dengan telinga dan suara dengan hidung, masing-masing harus dirasakan dengan alat yang sudah dipersiapkan Allah s.w.t menurut kebutuhannya. Seperti itu pulalah keadaan yang ada pada dimensi yang lain, dimensi jin, dimensi malaikat dan bahkan dimensi ruhaniah, untuk merasakan keberadaan dimensi makhluk halus itu bukan dengan indera lahir yang sebut bashoroh melainkan dengan indera batin yang disebut bashiroh.

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah NURUL HUDA Mergosono Malang - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Makalah Agama Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply