KUALITAS HIDUP

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحـْدَهُ لاَشـَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَاِبه اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah shalat Jum’at a‘zâkumullâh,
Manusia, terutama yang tinggal di kota, sebagian atau bahkan mungkin mayoritas terlalu sibuk. Urusan kita terlalu banyak, meski hampir semuanya mungkin hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Berapa lama waktu yang kita habiskan untuk mencari nafkah? Berapa jam kita untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di luar kantor? Berapa untuk istirahat dan tidur? Berapa pula untuk aktivitas hiburan, misalnya bermain media sosial atau beromong kosong dalam kerumunan orang? Berapa lama untuk berbelanja atau bepergian? Rasa-rasanya durasi 24 jam yang dianugerahkan kepada kita tiap hari seolah selalu kurang.

Saking sibuknya, kita bahkan sering tak sempat menghitung, dari sekian waktu yang kita lalui apakah porsi manfaat dan kebaikan lebih banyak atau justru sebaliknya: sia-sia belaka. Hal ini kerap dilatarbelakangi oleh sikap kita yang terlalu tenggelam pada urusan sehari-hari, urusan duniawi. Minimnya waktu untuk kontemplasi dan merenungi diri membuat manusia sering lupa bahwa ada kebahagiaan sejati di luar gemerlap aktivitas dan alam bendawi ini.

Allah subhânahu wata‘âlâ berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 46:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Artinya, “Harta dan anak keturunan adalah hiasan kehidupan rendah, sedangkan amal lestari yang berkebaikan adalah lebih baik (lebih tinggi nilainya) di sisi Tuhanmu sebagai pahala, dan lebih baik pula sebagai harapan.” (QS. 18: 46)

Dalam surat dan ayat lain disebutkan:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

Bukanlah harta kekayaanmu, dan bukan pula anak keturunanmu itu yang akan mendekatkan kamu ke sisi Kami (Tuhan) sedekat-dekatnya, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Maka mereka ini, ada bagi mereka pahala berlipat ganda atas apa yang mereka amalkan, dan mereka akan hidup dalam ruang-ruang (di surga) dengan aman sentosa (QS Saba’ [34]: 37).

Dua ayat tersebut mengungkapkan secara jelas bahwa orientasi “kehidupan rendah” dipertentangkan dengan orientasi kehidupan ketuhanan (rabbânîyah). Kebaikan sejati ternyata bukan pada banyaknya kekayaan dan keturunan, melainkan justru pada kehidupan yang diliputi kesadaran berketuhanan yang ditandai dengan iman amal saleh.

Hal yang bisa ditarik dari keterangan di atas bahwa orientasi kehidupan yang lebih tinggi, yang lebih mendapat ridla Allah adalah yang lebih menitikberatkan segi-segi kualitatif hidup, bukan segi-segi kuantitatifnya. Kekayaan dan anak keturunan seberapa pun banyak dan hebatnya tetap tak akan mengungguli iman dan amal saleh.

Iman bisa kita maknai sebagai kesadaran penuh akan Allah dalam setiap gerak langkah kita. Keyakinan yang tak hanya dibibir melainkan juga termanifestasi dalam setiap tindakan. Melalui iman inilah kita menyingkirkan berhala-berhala yang menyekutukan-Nya. Berhala-berhala tersebut bisa berupa uang, rumah, mobil, pekerjaan, jabatan, prestasi, anak, istri, dan seterusnya. Segala anugerah diyakini datang dari Allah dan semua aktivitas bermuara hanya untuk Allah.

Yang kedua adalah amal saleh (‘amal shâlih). Kata shalih berasal dari akar kata shulh yang berarti baik, cocok, pantas, perdamaian. Shâlih dalam bahasa Arab lebih pas  dipakai untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan orang lain. Dengan bahasa lain, kata ini lebih berorientasi sosial ketimbang individual. Dari kata ini pula muncul kata mashlahat yang bermakna kemaslahatan atau kebaikan bagi publik.

Jamaah shalat Jum’at a‘zâkumullâh,
Ketika Al-Qur’an mengontraskan antara banyaknya harta dan keturunan dengan iman dan amal saleh, terungkap pesan bahwa sesungguhnya yang kuantitatif, yakni berupa kekayaan dan keluarga, tidak lebih utama daripada kualitas pribadi seorang hamba yang digambarkan dengan kesadaran berketuhanan dan perbuatan baik. Kitab Suci seolah sedang mengajak kita untuk tidak hanya mempedulikan diri sendiri melainkan juga menebar kemanfaatan kepada yang lain.

Al-Qur’an sering menggambarkan dengan nada miring sikap hidup yang membanggakan harta kekayaan, tapi juga tak pernah memuji kemiskinan dan pola keluarga kecil yang sedikit atau tanpa keturunan. Islam memandang segenap perkara duniawi secara proporsional: menghalalkannya sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki, yakni tercapainnya kesadaran penuh akan Allah dalam setiap kesibukan kita dan kebermanfaatan kita untuk lingkungan sekitar.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang Rasulullah sebut sebagai manusia dengan kualitas unggulan (khairunnâs).  Kualitas tersebut tidak diukur dari jumlah kekayaan, tingginya kedudukan, atau bergengsinya status sosial dan latar belakang pendidikan. Ia diukur dari kadar kemanfaatannya untuk orang lain. “Khairunnâs anfa‘uhum linnâs. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وتقبل منى ومنك تلاوته إنه هو السميع العليم, أقول قولى هذا فأستغفر الله العظيم لى ولكم ولسائر المؤمنين والمؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحًمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Kumpulan Khutbah and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply