Al Qur’an Pioner Dalam Bidang Teknologi

Riset mengenai teknologi Islam jarang dikaji oleh berbagai lembaga pendidikan Islam. Padahal, hal ini memiliki makna dan nilai penting di mana para generasi muda Islam dapat diperkenalkan dengan berbagai upaya nyata ilmuwan muslim pendahulu yang sejak zaman nabi sudah mengembangkan teknologi dengan sedemikian pesat hingga dikenal sebagai teknologi modern di zaman sekarang.

Riset dan pengenalan terhadap teknologi dalam sejarah Islam bertujuan agar para siswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya lebih mengenal para ilmuwan muslim yang menjadi pionir lahirnya berbagai teknologi daripada ilmuwan barat yang justru mereka (para siswa muslim) agung-agungkan sebagai penemu berbagai teknologi. Disamping itu para siswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya akan lebih faham dan yakin bahwa teknologi yang mutakhir ternyata sudah disinggung oleh Al Qur’an, sehingga selayaknya pioner bidang teknologi ada pada Al Qur’an

 Kata Kunci: Teknologi, Islam

 1. Pendahuluan

Teknologi yang di zaman sekarang berkembang pesat sesungguhnya adalah sumbangan pemikiran para ilmuwan muslim yang kemudian dikembangkan lagi oleh ilmuwan barat. Diantara sumbangan pemikiran teknologi para ilmuwan muslim mencakup:

A) Teknik mesin- contohnya: sumber-sumber tenaga air dan angin, jam air dan jam mekanik, mainan mekanik.

B) Teknik sipil- contohnya: teknologi bangunan, infrastruktur jalan dan jembatan, irigasi.

C) Teknologi militer- contohnya: pembuatan meriam, senjata tajam, mesiu, serta senjata api.

D) Perkapalan & navigasi- contohnya: pembuatan kapal serta pembentukan angkatan laut.

E) Teknologi kimia- contohnya: proses-proses alkemi, penyulingan minyak bumi, minyak atsiri, ekstraksi minyak industri, pembuatan tinta zat warna serta pencelup.

F) Tekstil, kertas dan kulit- contohnya: industri tekstil, pembuatan pulp.

G) Pertanian dan teknologi pangan- contohnya: pembuatan alat-alat pertanian seperti bajak, pembuatan tepung sebagai bahan makanan.

H) Pertambangan & metalurgi- contohnya: metalurgi non besi, pengembangan sumber daya alam bawah air seperti mutiara. Dan sebagainya.

Rendahnya pemahaman akan hal ini terkait dengan beredarnya ungkapan yang menyatakan bahwa teknologi Islam berhenti pada abad ke-11 M. Ungkapan ini menjadi penghambat bagi pensosialisasian iptek yang dicapai Islam. Faktanya, pada masa itu sains Islam tidak mengalami penurunan. Hanya saja, jalannya perkembangan sains dan teknologi pada masa itu memang lebih lambat dibandingkan masa sebelumnya. Namun demikian, sains dan teknologi Islam tetap mengalami kemajuan selama beberapa abad ke depan.

Secara global, terdapat tiga tahapan dalam evolusi sains dan teknologi Islam di mana evolusi ini terus terjadi berkesinambungan sampai datangnya masa kebangkitan revolusi saintifik di barat. Tiga tahapan evolusi sains dan teknologi tersebut yaitu pertama, periode transisi dan asimilasi yang membawa pada kelahiran sains Islam; kedua, dicirikan oleh banyaknya inovasi dalam bidang sains; dan ketiga, ditandai oleh inovasi dalam bidang teknologi dan sains secara bersamaan. Tahap ketiga ini bermula pada abad ke-12 dan berakhir pada abad ke-16 hingga 17.

Tak dapat disangkal bahwa sejarahwan barat sesungguhnya telah mengetahui kemajuan yang dicapai oleh ilmuwan muslim dalam bidang matematika, astronomi dan ilmu pasti. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak bersikap simpatik dalam memberikan penilaian terhadap inovasi teknologi Islam. Padahal dengan pengamatan yang lebih cermat, perkembangan sains dan teknologi dalam Islam terlibat secara langsung dalam seluruh aspek material peradaban Islam yang meliputi standar kehidupan, jenis dan keanekaragaman produk-produk yang digunakan, metode irigasi, jaringan komunikasi hingga senjata tajam atau senjata api dalam peperangan. Semua itu saling bersinergi dan saling mengisi satu sama lain sehingga Islam tumbuh menjadi besar dan maju tanpa meninggalkan kebudayaan mendasar yang telah dititahkan Allah SWT dalam Alquran serta dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai suatu sunnah.

Pandangan miris terhadap kebudayaan dan teknologi Islam ini karena kurangnya pengkajian serta pensosialisasian dari umat Islam sendiri serta lemahnya sistem pendidikan Islam. Di samping itu juga dipengaruhi oleh aspek penyebaran sejarah kebudayaan yang cenderung simpang siur. Sebagai contoh, banyaknya sebuah penemuan yang berasal dari suatu negara tetapi karena dikembangkan dengan pesat serta dimanfaatkan secara meluas oleh negara lain maka negara yang mengembangkan penemuan tersebut mengklaim bahwa itulah penemuan mereka meskipun faktanya tidaklah demikian. Hal inilah yang kerap menimbulkan kebingungan dan kerancuan dalam sejarah sehingga kerap terjadi salah persepsi mengenai siapa sesungguhnya perintis iptek sejak zaman dahulu hingga berkembang pesat pada zaman modern.

 2. Al Qur’an dan Teknologi

            Istilah teknologi adalah suatu istilah yang asing (ghorib) dalam pengkajian ilmu-ilmu di pesantren salaf. Teknologi adalah istilah dari dua patah kata bahasa Latin: technos dan logos. Artinya dalam bahasa Indonesia,  technos itu ialah rangkaian beberapa onderdil, yang fungsinya tertentu masing-masingnya, dan sebagai satuan menjadi lebih besar fungsi dan guna manfaatnya. Adapun logos artinya ialah ilmu pengetahuan.

“Teknologi”, ilmu pengetahuan tentang rangkaian beberapa onderdil etc. etc. itu ditemukan dalam penelitian akan kaifiyah-haliyah serba macam benda-benda alamiyah. Semua benda alami itu dengan keanehan masing-masing yang serba indah adalah hasil ciptaan Allah SWT. Dan, Allah SWT itu “Aalimun”, Yang Maha Tahu, Yang Maha Sarjana.

Penelitian-penelitian akan benda-benda alami, yang dilakukan dalam rangka “Ibadah Muqayyadah” c.q. demi kepentingan Ilmu Tauhid dan pengamalan kewajiban “Tauhidul Ilaah”, tampak tujuannya hanya untuk menemukan Dalil-dalil Burhan, yang hasil-hasilnya dirumuskan antara lain begini :

وَأَمَّا بُرْهَانُ وُجُوْدِ اللهِ حُدُوْثُ الْعَالَمِ

“Adapun dalil yang pasti tak mungkin akan dipatahkan tentang Adanya Allah Ta’ala yaitu hal Kebaruan alam”.

Penjelasan kalimat di atas ialah: Adanya alam ini “minal ‘adam” (= dari tak-ada) “ilal wujud” (= ke ada). Apa yang adanya dari tak-ada, maka keberadaannya adalah “huduths” (baru), sebab sudah didahului tentang ketidak adanya. Akal menetapkan, sesuatu yang keberadaannya didahului dengan  ketidak-ada-nya, itu pastilah mustahil adanya oleh sendirinya, melainkan wajib ada yang menciptakan, dan keberadaannya pastilah wajib ada yang mem-baru-kannya, yaitu “Al-Khaliq” (= Sang Maha Pencipta), namaNya: Allah. Maka, semesta alam yang ada ini dengan hal baru-nya menjadi Dalil Burhan bahwa Allah itu pastilah Ada.

Adapun penelitian-penelitian akan benda-benda alami, yang dilakukan da­lam rangka “Ibadah Muthlaqah” c.q. demi kepentingan Ilmu Mu’amalah Ma’al Khalqi dan pengamalan kifayah “Mu’awanah” (= saling memberi jasa baik antara sesama manusia), tampak tujuannya untuk memperoleh dari aneka jenis dan ma­cam benda alami itu aneka macam ilmu pengetahuan yang kebenaran a.b.c. masing-masingnya jelas dalam penerapannya dalam bidang “Mu’awanah” nanti akan berguna manfaat sekali bagi kehidupan dan penghidupan manusia. Maklumlah, aneka macam benda alami itu adalah ciptaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pandai. Maka mustahil aneka macam benda alami, hasil ciptaNya, akan tidak mengandung a.b.c. ilmu pengetahuan yang bermutu tinggi, lengkap dengan tekhnologi yang agung nilainya.

Hingga para “Ulu Albab” (=Ulama Ahli Pikir Besar) merasa berdosa dan mohon dirinya diselamatkan dari siksa neraka, karena selama ini barulah mereka insaf untuk berbuat penelitian sebagai yang tersebut itu.

Termaktublah dalam Al Qur’an Surah Ali Imran: 190-191 sabda Ilahi tentang para Ulul Albab yang demikian itu, begini :

190. ………bagi orang-orang yang berakal, 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Dengan merenungkan firman Allah swt. tersebut barulah para “Ulu Albab” menyadari untuk berpikir tentang aneka macam makhluk Allah swt. di tujuh petela langit dan bumi ini, para Ulul Albab merasa berdosa, setelah nyata bagi mereka bahwa penciptaan itu semua, sama sekali bu­kan nonsesn. Maka mereka mohon diselamatkan dari siksa neraka, karena dosa yang dirasanya sendiri sebagai tersebut .

Dan, jelas dalam Firman Ilahi itu, bahwa “Berpikir tentang penciptaan aneka macam makhluk, isi tujuh petela langit dan bumi”, dengan tujuan akan menemukan a.b.c. rahasianya yang bermanfaat sekali bagi kehidupan dan penghidupan manusia dalam “Mu’awanah”, itupun bernilai sebagai “dzikrullah” = mengi­ngat Allah SWT. Tegasnya, “berpikir demikian dengan tujuan tersebut” itu adalah fiil mengingat Allah, namun “laisa bi lisanil maqal” = bukan dengan bahasa berlisan sebagai ucapan dzikir nafi ithsbat : “La Ilaha ill’ Allah”, melainkan ialah “bi li­sanil haal” = dengan bahasa haliyah berpikir “an sich” sebagai tersebut.

Tentang teknologi “an sich” dengan pola azali abadinya, yang Allah SWT anjurkan agar orang Mu’min dan Muslim, Ulama maupun bukan, akan mengetahui melalui jalan penelitian lalu menguasainya, termaktublah Firman Ilahi dalam Al Qur’an Surah Adz Dzariyaat: 21

“21. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?”

Bentuk susunan kata-kata Ayat Al Qur’an itulah antara lain justeru yang khas laksana Motor Ketuhanan, membangkitkan daya aktif akal-pikir seseorang Mukmin dan Muslim untuk melakukan penelitian dalam kaifiyah-haliyah diri sendiri seba­gai makhluk akan menemukan sesuatu a.b.c. rahasia yang jelas bermanfaat sekali bagi kehidupan dan penghidupan manusia umumnya dalam “Mu’amalah”.

3. Diri Manusia

Maklumlah, diri manusia sendiri, dari seluruh benda alami isi tujuh petela la­ngit dan bumi, adalah yang “fii ahsani taqwiim” = dalam konsepsi khilqan paling top, maka layaklah bahwa diri manusia sendiri itu, dalam sosial : “apa itu tekhno­logi” etc. etc., penulis ketengahkan di sini sebagai objek tertentu baku dalam peneli­tian. Hemat penulis, diri manusia sendiri itu adalah pola azali teknologi yang multi komplek.

Betapa akan tidak ?

Kita ambil contoh, misalnya pabrik minyak kelapa. Sebuah sarana produksi minyak kelapa yang paling ultra modern, dengan segala serba-serbinya menurut hasil penemuan-penemuan teknologis-elektrologis yang mutakhir.

Dalam sistem kerja unit permesinan elektris pabrik itu, permulaannya, sebuah bak raksasa, di isi kopra kering beribu-ribu kg yang acap kali ditambah menurut keperluan. Tombol listrik dipencet. Unit masineri listrik pabrik kontan bekerja menggiling kopranya dilayani hanya oleh tenaga manusia berjumlah minim, pada masing-masing posnya. Hasil cairan mi­nyak, kualitas “jernih-bersih”, mengalir sepanjang pipa khas kualitas itu, bermuara pada kran besar. Beribu kaleng kosong, acap kali ditambah jumlahnya, bertengger dalam jajaran atas ban yang berjalan elektris lambat-lambat (loopende band) lewat bawah kran tersebut, masing-masing silih berganti menampung curahan minyak dari kran, hingga sepenuhnya. Jajaran kaleng penuh minyak meluncur terus atas ban tersebut menuju muaranya. Di situ kaleng-kaleng pindah otomatis di atas ban jalan elektris lainnya, yang membawa tumpukan-tumpukan rapih @ 20 kaleng meluncur terus masuk gudang, menjadi tumpukan-tumpukan rapih @ 100 kaleng.

Hasil cairan minyak kualitas “keruh-non-bersih”, mengalir sepanjang pipa khas lain, bermuara pada kran besar juga. Beribu kaleng kosong, acap kali ditambah jumlahnya, bertengger dalam jajaran atas ban jalan elek­tris lambat-lambat etc. etc. etc. selanjutnya sama hal ihwalnya dengan kaleng-ka­leng minyak kwalitas “keruh-bersih”.

Bungkil atau ampasnya, hal ihwalnya sama pula dengan kaleng-kaleng kedua macam kualitas itu tadi, namun dengan lain muara ban jalan elektris dan gudangnya. Persis sebagai hal yang berlainan muaranya, ban jalan elektris dan gudang bagi kaleng-kaleng minyak kualitas “jernih-bersih” dan yang bagi kaleng-kaleng minyak kualitas “keruh-non-bersih”.

        Kalau kita telusuri apa yang tampak serba ultra modern pada pabrik ini, ternyata ada pada diri kita sendiri. Sebagai penjelasannya, prinsip sistem kerja bak raksasa dengan kopra isinya itu jelas berpola pada mulut, pada prinsip sistem kerja mulut orang. Soal modern, sesungguhnya fungsi dan prinsip sistem kerja mulut orang jelas lebih modern dari fungsi dan sistem kerja bak raksasa pabrik minyak yang dianggap kini sudah begitu amat modern. Mulut orang bisa diisi, tidak melulu hanya dengan kopra, melainkan kebiasaannya bahkan juga bisa dengan nasi goreng, martabak, nasi dengan sate kambing plus telur mata sapi dan Iain-lain, menurut selera.

Tombol listrik pabrik itu, prinsip sistem kerjanya jelas “menjiplak” seutuhnya prinsip sistem kerja iradah manusia. Di kala mulut orang berisi antara lain nasi plus rendang misalnya dan “tombol kemauan makan” begitu “dipencet”, maka persis sebagai hal yang “dijiplak” pabrik itu dengan tombol listriknya diri orang kontan bekerja menggiling barang makanan di mulut. Malahan secara yang juga ribuan derajat lebih modern. Sambil menggiling, mengunyah barang makanan seenaknya, diri orang bisa berjoget, bernyanyi lagu apa saja sesuka hati, pun bisa pula ngomel panjang-pendek. Padahal, kerja pabrik ultra modern itu nanti, jelas pasti monoton (satu nada) suaranya, tidak lebih tidak kurang hanya hrr… hrr.. hrr belaka, tanpa pernah berganti lagu, dus serba menyebalkan.

Persis menurut prinsip sistem azali abadi dalam kerjanya, sebagai yang “dijiplak” pabrik ultra modern itu, cairan kualitas “jernih-bersih”, hasil kerja giling diri manusia, mengalir sepanjang leding khas melulu hanya untuk yang kualitas itu, tertuang bisa dimana saja seperlunya, lewat kran  depan tengah badan.

Cairan kualitas “keruh-non-bersih”, kadangkala agak kental atau kental amat, ledingnya juga khas hanya untuk yang kualitas itu, tertuang pun bisa di­mana juga menurut perlunya, namun lewat kran khas lainnya, yaitu kran depan dua lobang atas mulut.

Kemudian, khas mengenai soal bungkilnya, ternyata prinsip sistem kerja dalam tubuh manusia, pengelolanya, pabrik ultra modern itu masih ribuan derajat kurang cukup pintar menjiplaknya. Bungkil hasil produksi pabrik ultra modern itu, bentuknya tetap selalu persegi tok, warnanya pun tetap saja selalu kelabu, lagi pula kualitasnya tetap hanya yang serba padat belaka. Padahal, bungkil hasil produksi permesinan ultra kuno dalam tubuh manusia, pola prima permesinan pabrik ultra modern itu, model bentuknya bisa menurut pesanan; model pisang ambon atau pisang mas, model piramida ajaib atau model yang encer saja. Soal warna, bisa melayani pesanan warna kuning, coklat, hijau dan Iain-lain. Soal tempat penumpukannya, bisa pula melayani pesanan, harus di kamar kecil, di selokan, di ladang bawah pohon dan Iain-lain.

 4. Pelacakan Tekhnologi

Otomobil, salah satu dari entah berapa puluh ribu macam hasil tekhnologi modern. Prinsip seluruh khilqah otomobil itu jelas dengan setia menganut pola prinsip khilqah diri manusia.

Prinsip perlengkapan bakunya, ialah karoseri dan permesinan, jelas berpola pada prinsip baku perlengkapan diri manusia, yaitu badan jasmani dan badan rohani.

Prinsip sistem kerjasama antara karoseri dan permesinannya dalam bersama-sama melakukan tugas fungsionilnya, jelas pula berpola presis pada prinsip sistem kerjasama antara badan jasmani dan badan ruhani manusia dalam bersama-sama melakukan tugas fungsionilnya.

Prinsip kehidupannya dengan mutlak memerlukan bahan bakar yang berjenis bensin dan sebagainya itupun jelas berpola pada prinsip kehidupan diri manusia yang dengan mutlak memerlukan bahan bakar barang makanan dan minuman, berupa nasi dan air dan sebagainya.

Pendek kata, prinsip fiil fungsionil tiap onderdil otomobil, onderdil di dalam maupun di luar “dada & perutnya”, juga prinsip systim kerjasama antara semua macam onderdil otomobil itu, kesemuanya jelas tegas serba “makmuman” pada prinsip sistem hal ihwal yang sepadan daripada diri manusia.

Juga prinsip sistem pemeliharaan kesehatan dan kecantikan otomobilpun serba tak kurang jelas menurut prinsip sistem diri manusia dalam memelihara kesehatannya, keawet-mudaannya, kecantikannya. Ada mandinya. Ada servis ini itu anunya. Ada cuci perutnya, sampai kadangkala perlu turun-mesin, semacam massage sekujur badan, entah karena salah urat, entah karena apa lainnya. Pun ada media kosmetikanya segala, yang khas bagi tubuh dan wajah otomobil antara lain pada waktu otomobil dicuci ada pembersih berupa sampo pembersihnya dan setelah kering dikilapkan dengan polish compound yang bersilikon yang berguna mengkilapkan bodi mobil serta mengawetkan catnya, dan sebagainya.

Dan, semua pesawat bermotor, besar maupun kecil, hasil tek­nologi modern pada umumnya, prinsip sistem rangkaian semua onderdil masing-masing menjadi sebuah satuan, prinsip sistem kerjasama onderdil masing-masing antara satu sama lain melakukan tugas fungsionilnya dalam satuan, prinsip sistem kehidupan masing-masing pesawat bermotor yang bersangkutan, prinsip sistem pemeliharaan kesehatannya, keawetannya, kecantikannya, semuanya pun jelas menganut pola prinsip sistem hal ihwal yang sepadan daripada diri manusia.

Alat-alat kerja tekhnis, besar maupun sedang atau kecil, kesemuanya hasil teknologi modern, yaitu alat-alat kerja yang tampak terbiasa dipakai entah di alam kepabrikan, entah di alam perbengkelan, entah di alam pekerjaan besar lapangan, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk maupun fungsi atau prinsip sistem penerapannya dalam pekerjaan alat-alat kerja teknis tersebut, ada yang berpola pa­da tangan manusia, pada kaki orang, pada jari-jari tangan insani, pada gigi-gigi Bani Adam, lengkap dengan ada pula yang berpola pada mulutnya.

Dan, semua apa yang tersebut di atas tadi disebut dengan istilah “prinsip sistem”, yaitu a.b.c. rahasia, yang Allah swt tunjukkan berada : “fii anfusikum” = dalam diri kalian, lantas ditanyakanNya kepada para manusia Mukmin & Muslim : “afala tubshirun” = apakah tidak kalian lihat ?

5. Tekhnologi Pemerintahan

Bentuk Pemerintahan Negara, ada yang kolot, ada yang modern. Bentuk yang kolot, segala kekuasaan negara berada di satu tangan. Entah tangan Raja, entah pula tangan Diktator. Bentuk yang modern, segala kekuasaan Negara terbagi tiga : Legislatif, Eksekutif, Judikatif. Mutlak berpisah-pisah, namun harus kerja-sama, tanpa saling campur tangan, mempengaruhi.

Ketiga macam kekuasaan negara itu namanya : Trias Politika, lengkap de­ngan pembagian dan prinsip sistem kerjanya adalah hasil penemuan seorang Ahli Pikir besar bangsa Perancis, Montesqueu namanya. Dari mana menemukan Trias Politika itu, Montesqueu tidak pernah bilang.

Montesqueu telah menemukan Trias Politika itu, lengkap dengan pembagian dan prinsip sistem kerjanya dalam tubuh diri sendiri. Demikianlah keyakinan yang harus dipegang seorang mukmin, berpegang pada petunjuk Ilahi dalam ayat Al Qur’ an yang ternukil di atas pada sub-judul “Al Qur’an dan Tekhnologi”.

Diri manusia, ibarat “micro staat” = negara kecil, itu diperlengkapi antara lain dengan : (1) otak kecil, (2) otak besar, (3) kalbu nurani. Masing-masing de­ngan tugas : (1) memikir, (2) pegang komando gerak-gerik seluruh tubuh oleh jaringan urat syaraf di seluruh tubuh, (3) menimbang dan memilih antara buruk dan baik.

Maka ibarat dalam “macro staat” negara besar, negara realita fungsi (1) otak kecil, (2) otak besar, (3), kalbu nurani itu, masing-masing sebagai : (1) pengemban kekuasaan Legislatif, pembuat Undang-undang, (2) pengemban kekuasaan Eksekutif, pemegang komando tertinggi gerak pelaksanaan Undang-undang, sedangkan jaringan urat syaraf di seluruh tubuh manusia, itu ibarat aparatur Pemerintah di seluruh   Negara (3)   pengemban   kekuasaan   Judikatif, pengadilan.

Kalau kerja (1) otak kecil, (2) otak besar, (3) kalbu nurani dalam tubuh ma­nusia saling campur tangan, saling mempengaruhi, seluruh tubuh manusia yang bersangkutan akan pasti menderita sengsara. Contohnya :

Mengendarai sepeda misalnya, pelaksanaan seluruhnya masuk bagian tugas (2) otak besar. Pengalaman orang menunjukkan, di kala belajar mengendarai sepe­da, duduk orang di sadel tidak menentu tetap, megal-megol, lengkap dengan punggungnya, laksana menjoged ala tari remo. Kedua kaki, dalam menggenjot pedal sering salah irama. Kedua tangan, megangnya stirstang tidak keruan arahnya hingga pikiran menjadi tegang. Kesemua hal itu menunjukkan bahwa (1) otak kecil, (3) kalbu nurani telah campur tangan dalam pelaksanaan tugas (2) otak besar. Akibatnya, maka kehendak memilih jalan yang selamat, demikianlah dalam pikiran, tapi tahu-tahu dengan sepedanya malahan membentur pohon di pinggir jalan, stirstang men­jadi mbengkok, roda depan menjadi rusak, badan jatuh terpelanting, babak belur, dengan atau tanpa patah tulang.

Tapi setelah pandai mengendarai sepeda, tegasnya (1) otak kecil, (2) otak be­sar, (3) kalbu nurani sudah pantang kerja saling campur tangan, saling mempenga­ruhi, kenyataan menunjukkan, orang bisa naik sepeda seenak hati sendiri mungkin, dengan pikiran sibuk menggarap aneka macam persoalan rumit, dengan hati berdenyut senang menyambut senyuman Kebaya Merah di tepi jalan ramai, namun dengan selamat dirinya, tanpa mengalami kecelakaan lain.

Demikianpun halnya dalam “macro staat”, dalam Negara realita.

Negara, yang kekuasaan-kekuasaannya (1) Legislatif, (2) Eksekutif, (3) Judikatif, ketiga-tiganya berada di satu tangan, sebagai antara lain Perancis di janan Lodewijk, atau Kartasura di jaman Mangkurat, nasib Negara dan Dinasti “dinamakan” revolusi besar, sebab Rakyatnya sengsara menjadi marah dan berontak.

Kalau ketiga-tiga macam kekuasaannya itu saja yang saling campur tangan, saling mempengaruhi antara lain misalnya kekuasaan (2) Eksekutif, kekuasaan yang dengan aparatur Pemerintahannya giat aktif di seluruh tubuh Negara men­jadi tampak paling kuasa, lalu campur tangan dalam kekuasaan (1) Legislatif, dengan antara lain misalnya menguasai urusan kepentingan Dewan Legislatif, maka entah cepat entah lambat tapi pasti, Negara yang bersangkutan dan Rakyatnya akan mengalami nasib orang semasa belajar mengendarai sepeda.

Pemerintahan  yang berdasarkan  teori Trias Politika itulah Pemerintahan Demokratis murni. Pemerintah dan Rakyat saling bermusyawarah murni. Pemerintah merasa wajib bermusyawarah murni dengan Rakyatnya. Rakyat merasa wajib bermusyawarah murni dengan Pemerintahnya. Demi KEJAYAAN NEGA­RA bersama !

Mengenai soal Tekhnologi Pemerintahan Negara itu, termaktub dalam Al
Qur’an sabda Ilahi, QS. Ali Imron: 159

…..وَشَاوِرْهُمْ فِى اْلأَمْرِ…..

“Dan bermusyawarahlah (Pemerintah dengan Rakyat) dalam urusan kepentingan mereka bersama”.

Dan firman Allah swt. dalam QS. Asy Syuura: 38

……وَأَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ…..

“…Dan urusan kepentingan mereka bersama, (Pemerintah dan Rakyat), dimusyawarahkan antara mereka bersama !

Kemudian, jelaslah jadinya bahwa Al Qur’an adalah malahan laksana Motor Ketuhanan, yang membangkitkan himmah para Makmum, ialah para Mukminin dan Muslimin, untuk tampil dalam menimbulkan penemuan-penemuan ilmiah dan tekhnologi yang multi kompleks.

6. Evolusi Sains dan Teknologi Islam

Secara global, terdapat tiga tahapan dalam evolusi sains dan teknologi Islam di mana evolusi ini terus terjadi berkesinambungan sampai datangnya masa kebangkitan revolusi saintifik di barat. Tiga tahapan evolusi sains dan teknologi tersebut yaitu pertama, periode transisi dan asimilasi yang membawa pada kelahiran sains Islam; kedua, dicirikan oleh banyaknya inovasi dalam bidang sains; dan ketiga, ditandai oleh inovasi dalam bidang teknologi dan sains secara bersamaan. Tahap ketiga ini bermula pada abad ke-12 dan berakhir pada abad ke-16 hingga 17.
Tak dapat disangkal bahwa sejarahwan barat sesungguhnya telah mengetahui kemajuan yang dicapai oleh ilmuwan muslim dalam bidang matematika, astronomi dan ilmu pasti. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak bersikap simpatik dalam memberikan penilaian terhadap inovasi teknologi Islam. Padahal dengan pengamatan yang lebih cermat, perkembangan sains dan teknologi dalam Islam terlibat secara langsung dalam seluruh aspek material peradaban Islam yang meliputi standar kehidupan, jenis dan keanekaragaman produk-produk yang digunakan, metode irigasi, jaringan komunikasi hingga senjata tajam atau senjata api dalam peperangan. Semua itu saling bersinergi dan saling mengisi satu sama lain sehingga Islam tumbuh menjadi besar dan maju tanpa meninggalkan kebudayaan mendasar yang telah dititahkan Allah SWT dalam Alquran serta dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai suatu sunnah.
Pandangan miris terhadap kebudayaan dan teknologi Islam ini karena kurangnya pengkajian serta pensosialisasian dari umat Islam sendiri serta lemahnya sistem pendidikan Islam. Di samping itu juga dipengaruhi oleh aspek penyebaran sejarah kebudayaan yang cenderung simpang siur. Sebagai contoh, banyaknya sebuah penemuan yang berasal dari suatu negara tetapi karena dikembangkan dengan pesat serta dimanfaatkan secara meluas oleh negara lain maka negara yang mengembangkan penemuan tersebut mengklaim bahwa itulah penemuan mereka meskipun faktanya tidaklah demikian. Hal inilah yang kerap menimbulkan kebingungan dan kerancuan dalam sejarah sehingga kerap terjadi salah persepsi mengenai siapa sesungguhnya perintis iptek sejak zaman dahulu hingga berkembang pesat pada zaman modern.

Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang mendorong umat Islam untuk maju dan beradab. Di antaranya ialah:

Pertama, ayat Alquran yang turun pertama kali adalah ayat yang menyuruh membaca (Surat Al ’Alaq ayat 1 – 5). Mestinya umat Islam merenungkan, mengapa ayat Alquran yang turun pertama kali justru ayat yang menyuruh membaca.

Membaca adalah lambang dari kegiatan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Alquran menyatakan, bahwa Allah sangat menghargai orang-orang yang beriman dan menguasai ilmu pengetahuan (Surat Al-Mujadilah ayat 11). Apakah umat Islam sedunia pada zaman modern sekarang ini memprioritaskan pendidikan? Kenyataannya indeks kualitas pendidikan Indonesia masih di bawah Vietnam, sebuah negara kecil dan miskin.

Kedua, Alquran menegaskan agar umat Islam hendaknya menjadi khaira ummah, atau umat yang terbaik dan selalu menganjurkan untuk berbuat kebaikan serta mencegah perbuatan yang jahat (Surat Ali Imran ayat 110 ). Mestinya semua pemimpin Islam mempunyai obsesi untuk memimpin umatnya agar menjadi umat yang berkualitas dan kompetitif. Pikiran yang sehat dapat menggambarkan bagaimana kriteria umat yang berkualitas, seperti: sehat jasmani dan rohaninya, kuat ekonominya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, luhur budi pekertinya, kuat pertahanannya, dan sebagai umat beragama tentu harus kuat iman dan takwanya.

Ketiga, Alquran menganjurkan agar umat Islam menjalin kerja sama, bantu-membantu untuk mewujudkan kebaikan dan takwa, dan sekali-kali jangan membantu usaha-usaha yang menjurus pada perbuatan dosa dan permusuhan (Surat Al-Maidah ayat 2). Ayat ini mendorong umat Islam untuk menjalin kerja sama dengan umat dan bangsa-bangsa lain, dalam lingkup lokal, nasional, regional, dan global.

Keempat, Alquran menganjurkan agar dalam menghadapi hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama dilakukan musyawarah (Surat Syura ayat 38). Melalui musyawarah ini dapat dihindari konflik sosial, dan bahkan dapat digalang kekuatan segenap komponen masyarakat untuk mencapai tujuan bersama.

Kelima, Alquran menegaskan bahwa kehadiran Islam adalah merupakan rahmat bagi seluruh alam (Surat Al- Anbiya’ ayat 107). Rahmat secara harfiat berarti kasih. Keluasan arti rahmat dapat mencakup kebaikan, manfaat, kesejahteraan, keselamatan, kemajuan, dan lain-lain.

7. Kesimpulan

            Dengan merenungkan dan memahami apa yang telah diuraikan di atas maka selayaknyalah orang mengakui bahwa Al Qur’an sangat mendorong tumbuh kembangnya berbagai macam teknologi yang sekarang ini sangat diagung-agungkan semua orang  dan Al Qur’anlah sesungguhnya perintis iptek sejak zaman dahulu hingga berkembang pesat pada zaman modern.

8. Daftar Pustaka

-     www.ppsdms.org,eknologi-etika agama, 2007

-     M. Quraish Shihab, DR., MA, Tafsir Maudhu’I Atas Pelbagai Persoalan Ummat, 2007, Mizan.

-     www.rufaqqit.com, Mengapa Islam Tertinggal Dalam Teknologi, 2008

-     www.wahdah.or.id, Pembaharuan Dalam Islam, 2007

-     www.dudung.net, Teknologi Informasi Dalam Pandangan Syariat Islam, 2007

-     www.wawasandigital.com, Islam Dan Teknologi, 2008

-     www.baitulamin.org, Teknologi Internet Dan Fenomena Globalisasi Dalam Pandangan Islam

-     www.ilma95.net, Teknologi Dalam Pandangan Al Qur’an, 2007

-     T.Jacob, Manusia, Ilmu Dan Teknologi, 1989, Yogyakarta, Tiara Wacana

-     Ki Moesa’I Machfoeld, Prof, Al Qur’an Dan Teknologi, Mimbar Ulama, 1979, Jakarta

-     www.ismet.org., Teknologi Dalam Pandangan Islam, 2007

-     www.mrbambang.web.id., Islam, 2007

-     www.fai.uhamka.ac.id., Kloning Dalam Pandangan Hukum Islam, 2007

-     www.pesantren.or.id.29.masterwebnet.com., Teologi Politik Konsep Negara Dalam Al Qur’an, 2008

 

 

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Makalah Agama Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply