25 Cara Berbicara – Agar Anak Mau Mendengar

Kata orang, bagaimana acuan, begitulah bentuknya. Selalunya, ibu bapa adalah role model bagi setiap anak-anak. Oleh itu, adalah penting untuk kita sebagai ibu bapa menjaga tutur kata dan tingkah laku. Salah satu teknik yang penting adalah bagaimana berbicara dengan anak-anak. Sedar atau tidak, cara kita berbicara dengan anak akan menentukan cara dia belajar berbicara dengan orang lain.

Saya kadang-kala (ikut keadaan) adalah seorang yang “short tempered”. Bagi saya bukanlah mudah untuk berbicara dengan anak-anak kecil, terutama sekali yang seusia Yaqut (3 tahun). Kadang-kala, saya terpaksa mengulang berkali-kali tentang perkara yang sama, tapi Yaqut tidak juga menurut kata-kataku. Hemmm…Saya menemukan tips untuk berbicara dengan anak agar mereka mau mendengarkan kata orang tua. Setelah dicoba pelan-pelan tumbuh hasil pemahaman yang lebih mudah bagi anak untuk mau mendengar.

Berikut beberapa tips yang boleh dilakukan :

1 – Connect before you direct

Sebelum anda memberikan arahan kepada anak, berlututlah setinggi level mata anak dan tatap matanya untuk mendapatkan perhatiannya. Ajarlah dia bagaimana untuk fokus. Contoh: “Yaqut, abuya mau berbicara sebentar. Abuya minta Yaqut mau mendengarkan, ya..”

Berikan ‘bahasa tubuh’ yang sama semasa anda mendengar penuturan mereka. Pastikan kontak mata anda tidak terlalu intens/keras, pandanglah anak anda dengan pandangan yang lembut sehingga anak menganggap pandangan mata itu sebagai cara ‘berkomunikasi’ bukan ‘mengontrol’.

2 – Address the child

Mulakan permintaan dengan menyebutkan nama anak.
Contoh: “Yaqut, mau menolong abuya…..”

3 – Stay brief

Gunakan aturan ‘satu kalimat’. Letakkan kata arahan di permulaan kalimat. Semakin lama anda bertutur kata atau berbicara panjang lebar, anak anda akan semakin bertingkah laku ‘tuli’ dengan isi kata-kata anda. Terlalu banyak bicara adalah kesalahan paling umum terjadi ketika berdialog tentang suatu masalah dengan anak. Situasi seperti ini membuat anak anda merasa bahwa anda sendiri tidak terlalu yakin dengan apa yang ingin anda sampaikan. Dan dia akan beranggapan bahwa semakin dia membuat anda terus berbicara, semakin mudah membuat anda menyimpang dari poko pembicaraan masalah sebenarnya.

4 – Stay simple

Gunakan kalimat-kalimat pendek dengan kata-kata yang mengandung satu suku-kata. Cobalah dengarkan bagaimana anak-anak berkomunikasi dengan teman sebayanya dan perhatikan caranya. Bila anak anda sudah memperlihatkan pandangan yang menunjukkan bahwa ia sedang tidak berminat, itu berarti kata-kata anda tidak lagi difahami olehnya.

5 – Ask your child to repeat the request back to you

Jika anak anda tidak dapat mengulangi kembali arahan yang telah anda diberikan, kemungkinan besar kata-kata anda terlalu panjang atau terlalu rumit.

6 – Make an offer the child can’t refuse

Anda dapat memberikan alasan kepada seorang anak usia 2 atau 3 tahun, khususnya untuk menghindari ‘unjuk kekuatan’ antara anda dengannya, misalnya, “Cepat pakai baju supaya kamu boleh main di luar.” Berikan alasan yang munasabah/sesuai untuk permintaan anda yang memang untuk ‘keuntungan’ sang anak dan juga ‘sulit untuk ditolak’ dia. Situasi ini akan membuatnya tidak mencoba ‘unjuk kekuatan’ dan mau melakukan apa yang kita inginkan.

7 – Be positive

Daripada mengatakan “Jangan lari-lari!”, tetapi cobalah dengan: “Di dalam rumah kita berjalan, di luar rumah kamu boleh berlari.”

8 – Begin your directives with I want

Daripada mengatakan “Turun!”, cobalah dengan: “Abuya minta kamu turun.”
Daripada, “Sekarang giliran Yaqut.”, cobalah dengan: “Abuya mau Yaqut memberi giliran buat Yaqut.” Cara seperti ini berhasil baik untuk anak-anak yang ingin bersikap baik tapi tidak suka ‘diperintah’. Dengan mengucapkan, “Abuya ingin….”, anda memberinya alasan untuk ‘rela melakukannya’ dibandingkan hanya sekadar ‘satu perintah’.

9 – When … then

“Selepas kamu selesai menggosok gigi, abuya akan bacakan buku cerita.”
“Selepas PR kamu selesai, kamu boleh nonton TV.”

Kata ‘selepas’ yang menyatakan bahawa anda mengharapkan ‘epatuhan’, lebih berhasil diterapkan dibandingkan kata ‘kalau’. Pemilihan kata ini seperti ini memberikan anak satu pilihan, di masa anda tidak bermaksud memberinya pilihan.

10 – Leg first, mouth second

Daripada berteriak, “Matikan TV, sekarang makan malam!”, cobalah untuk berjalan mendekati anak, bergabung dengan keasyikannya menonton TV sebentar dan setelah itu, ketika ada iklan TV, mintalah anak Anda mematikan TV. Berjalan mendekati anak anda sebelum memintanya melakukan sesuatu memiliki pesan tersirat bahwa anda serius dengan permintaan anda. Jika tidak demikian, anak-anak hanya akan menafsirkannya sebagai pilihan belaka.

11 – Give choices

‘Kamu mau pakai pijama atau gosok gigi dulu?’
‘Baju warna merah atau yang biru?’

12 – Speak developmentally correctly

Semakin kecil usia seorang anak, arahan anda seharusnya semakin pendek dan semakin sederhana. Pertimbangkan tingkat pengertian anak anda. Sebagai contoh, suatu kesalahan umum yang sering dilakukan ibu bapa jika bertanya pada anaknya yang masih berusia 3 tahun, “Kenapa kamu lakukan itu?” Bahkan sebahagian besar orang dewasa pun hampir tidak dapat menjawab pertanyaan seperti itu. Cobalah dengan, “Mari kita bicarakan tentang apa yang baru saja kamu lakukan.”

13 – Speak socially correctly

Bahkan anak usia 2 tahun pun dapat belajar mengatakan ‘tolong’. Upayakan anak anda belajar bersikap sopan. Jangan sampai mereka berfikir bahwa ‘etika’ adalah sebuah ‘pilihan’. Berbicaralah kepada anak anda dengan cara yang anda inginkan mereka lakukan juga kepada anda.

14 – Speak psychologically correctly

Kalimat pembuka berupa ‘ancaman’ atau ‘menghakimi’ cenderung menempatkan anak pada sikap mempertahankan diri. Kata ‘kamu’ berisi pesan yang membuat seorang anak jadi bungkam. Kata ‘saya’ berisi pesan yang ‘tidak menuduh’. Daripada mengatakan, “Kamu lebih baik lakukan ini…” atau “Kamu harus …”, cobalah katakan, “Abuya mau …” atau, “Abuya suka sekali kalau Yaqut….”.

Daripada mengatakan “Kamu harus membersihkan meja.”, cobalah katakan, “Abuya mau kamu bersihkan meja ini.” Sebaiknya, jangan berikan pertanyaan arahan bila tidak ingin mendapatkan jawaban ‘tidak’. Contoh: jangan katakan, “Maukah kamu mengangkat piring kamu?”, cukup katakan, “Tolong angkat piringmu.”

15 – Write it

‘Mengingatkan’ dapat berubah dengan mudah menjadi ‘mengomel’, khususnya bagi anak-anak pra-remaja yang merasa jika mereka diperintahkan sesuatu akan membuat mereka langsung masuk ke dalam golongan ‘budak’. Tanpa mengucapkan apa-apa, anda dapat berkomunikasi apa saja yang ingin anda sampaikan. Bicaralah dengan pensil dan notes. Tinggalkan catatan/pesan jenaka untuk anak anda. Lalu duduklah dan lihatlah apa yang akan terjadi.

16 – Talk the child down

Semakin nyaring anak anda berteriak, sebaiknya semakin lembut anda memberi respon. Biarkan anak anda meluapkan kemarahannya sementara anda menyahuti dengan sedikit komen: “Ok, abuya faham.” atau, “Boleh mama tolong/bantu?”

Kadang-kadang hanya dengan memiliki seorang pendengar yang peduli akan meredakan sifat bandel seorang anak. Jika anda menghadapinya dengan tingkat kemarahan yang sama dengan anak anda, anda harus berhadapan dengan dua macam kebandelan. Jadilah sebagai orang dewasa untuk anak anda.

17 – Settle the listener

Sebelum memberikan perintah, pulihkan lebih dahulu keseimbangan emosi anda. Jika tidak, anda hanya akan membuang waktu saja. Tidak ada satupun yang ‘mengendap’ dalam pikiran seorang anak bila dia sedang berada dalam kondisi emosi yang tidak baik.

18 – Replay your message

Anak-anak di bawah usia 2 tahun masih sulit memahami arahan-arahan anda. Sebagian besar anak usia 3 tahun mulai belajar memahami arahan sehingga apa yang anda bicarakan mulai ‘mengendap’ dalam fikiran mereka. Cobalah untuk mulai mengurangi ‘arahan yang diulang-ulang’ saat anak anda mulai beranjak lebih besar. Anak-anak pra-remaja bahkan menilai ‘pengulangan’ ini sebagai bentuk ‘kebebelan’ atau menganggap anak anda tidak faham.

19 – Let your child complete the thought

Daripada mengatakan, “Jangan sampai barang-barang kotor dan berserakan!”, cobalah katakan, “Yaqut, coba fikirkan di mana kamu mau simpan mainan ini.” Membiarkan anak memikirkan hal seperti ini cenderung memberikannya sebuah pelajaran yang bertahan lama.

20 – Use rhyme rules

Misal: “If you hit, you must sit.” … Mintalah anak anda mengulangi ritme yang semacam ini.

21 – Give likable alternatives

“Kamu tidak boleh pergi sendirian ke taman itu, tapi kamu boleh bermain di lapangan sebelah.”

22 – Give advance notice

“Kita akan segera pergi. Sebut ‘bye-bye’ ke mainan kamu, ‘bye-bye’ ke teman-teman kamu.”

Ho…ho… tips ini sangat berguna dan perlu dipraktikkan bila saya membawa anak-anak ke arena bermain…

23 – Open up a closed child

Hati-hati dalam memilih kalimat yang bertujuan untuk ‘membuka’ fikiran dan mulut si kecil yang sedang ‘tertutup’ ini. Tetaplah pada topik-topik yang anda tahu ia akan membuatkan anak anda bersemangat ingin tahu. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih daripada hanya ‘ya’ atau ‘tidak’. Tetaplah pada hal-hal yang spesifik. Daripada mengatakan, “Apakah kamu senang di sekolah hari ini?”, cobalah katakan “Apa yang paling menyenangkan yang kamu kerjakan hari ini?”

24 – Use When you… I feel… because..

Contoh, “Kalau kamu lari-lari dan jauh dari mama di dalam gedung ini, mama akan bersedih hati karena kamu mungkin akan tersesat.”

25 – Close the discussion

Jika memang ada hal yang tidak dapat lagi dibincangkan, katakanlah kepada anak anda, “Saya tidak akan berubah fikiran tentang masalah ini. Maaf.” Anda akan menghemat ‘kelelahan’ dan ‘air mata’ anda juga anak anda. Simpan saja nada ‘serius’ anda jika diperlukan nanti.

 

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Pendidikan anak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply