MEMAKNAI CINTA KEPADA RASULILLAH SAW.

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله الّذِي لا اِلهَ سِوَاهُ وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ والْعِبَادَةِ. وَنَهَاكُمْ بِالظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ. فَلا يَكُوْنُ ذلِكَ اِلاَّ لِخُسْرَانِكُمْ وَهَلالِكُمْ. وَلَكِنَّ اللهَ يَرْحَمُكُمْ وَأنْزَلَ نِعَمَهُ عَلَيْكُمْ. فَأَطِيْعُوْهُ وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ. لِأَنَّ اللهَ جَزَى أَعْمَالَكُمْ. أَثَابَكُمْ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. وَعَذَّبَكُمْ بِسَيّءِ أَفْعَالِكُمْ.

وقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Pada kesempatan yang mulia, marilah kita terus-menerus meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Taqwa dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah serta meningkatkan semua larangan-larangan-nya. Juga taqwa dalam arti taat serta patuh terhadap semua ketentuan yang telah diisyaratkan Allah Swt. Dalam agama islam. Dengan begitu, mudah-mudahan kita mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat amin.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam merupakan sebuah konsekwensi logis dari pernyataan syahadat seorang Muslim khususnya dari ikrar syahadat kedua (syahadat rasul). Ikrar atau sumpah dan kesaksian dalam syahadat kedua merupakan konsekwensi dari syahadat tauhid (syahadat  pertama). Di dalam al-Qur’an Allah telah mewajibkan dan memerintahkan kepada semua hamba-Nya yang mengaku cinta kepada Allah untuk mau mentaati Rasulullâh dan mengikutinya serta sekaligus mencintainya sebagaimana firman Allah dalam QS Ali’imrân [3] : 31.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron: 31)

Cinta kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam merupakan ukuran kesempurnaan iman bagi seseorang. Cinta kepada Nabi juga menjadi ruh dari iman itu sendiri. Selain itu cinta kepada Nabi menjadi  esensi dari ajaran al-Qur’an dan kehidupan agama. Sebaliknya jika cinta kepada Nabi hilang maka ritual agama dan kepatuhan agama menjadi kosong sehingga agama hanya menjadi maklumat atau informasi tentang kebaikan saja yang jauh dari amal nyata.

Cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan demikian menjadi sebuah kewajiban dan tuntutan bagi setiap Muslim. Sayangnya perasaan cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada umumnya sekarang ini hanya sebatas pengakuan saja sehingga tidak terbukti dalam perbuatan sehari-hari. Cinta seperti ini jelas cinta palsu dan cinta yang tidak akan mendapatkan balasan pahala dari Allah Azza wa Jalla. Bahkan di akhirat kelak malaikat Jibril akan mengusir para pengikut nabi yang akan meminta air telaga kepada Rasulullâh karena sewaktu di dunia mereka berpaling dari petunjuk nabi dan menyelisihi sunah nabi meskipun mereka adalah pemeluk Islam.

Untuk menghindari keadaaan tersebut maka penting bagi umat muslimin untuk memaknai, menumbuhkan, dan mimiliki cinta sejati kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Lantas bagaimana sesungguhnya memaknai hakikat cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam itu sehingga kelak kita mendapatkan jaminan Nabi di akhirat sebagai pengikutnya yang akan mendapatkan syafaat darinya.

Mengapa Harus Mencintai Rasulullâh?

Secara dogmatis cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam merupakan sebuah kewajiban sesudah cinta kepada Allah. Prinsip dalam beragama adalah menunaikan kewajiban dan meninggalkan larangan. Sesuatu itu baik menurut agama jika sesuai dengan  kewajiban (deontologi).  Perintah atau kewajiban mencintai Rasulullâh terdapat dalam QS al-Taubah [9]: 24,

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اْقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِى سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لَا يَهْدِى اْلقَوْمَ اْلفَاسِقِيْنَ

24. Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS al-Taubah [9]: 24)

Dalam ayat tersebut mencintai rasul adalah prioritas kedua setelah cinta kepada Allah. Bagi mereka yang menempatkan cinta terhadap 8 perkara keduniaan melebihi cinta kepada 3 perkara akhirat maka tergolong orang yang fasik dan diancam dengan datangnya keputusan Allah berupa azab di dunia dan akhirat. Semoga diri kita dan bangsa Indonesia sedang tidak menunggu keputusan Allah dengan datangnya bencana yang bertubi-tubi karena terlalu cinta kepada 8 perkara keduniaan tersebut. Dari ayat tersebut juga ditekankan akan pentingnya cinta kepada rasul sebagai salah satu cara untuk menghindarkan diri dari ancaman Allah dan terhindar dari perbuatan  orang fasik.

Dalam sudat pandang kebaikan dari segi teologi atau utilitarianisme maka mencintai nabi akan membuat manusia terhindar dari azab Allah dan tidak tergolong menjadi orang fasik. Pandangan teologi berpegang pada prinsip bahwa kebaikan itu adalah semua perbuatan yang memberikan manfaat atau kegunaan. Dari segi manfaat jika seseorang mencintai rasul maka akan mendapatkan berupa syafaat dari Nabi dan masuk surga bersama Nabi.

Alasan lain mengapa kita harus mencintai rasul adalah adanya tuntutan dari Allah untuk membuktikan cinta kepada Allah hanya dengan mengikuti Rasulullâh atau mencintai Rasulullâh. Pada hakikatnya cinta kepada Allah itu ada 2 yaitu cinta yang shadiq (benar)  dan cinta yang kadzib (palsu). Cinta yang shadiq harus memenuhi syarat supaya diterima cintanya sehingga orang tersebut tidak sekedar mengaku mencintai tetapi juga dicintai oleh Allah SWT. Ungkapan “Ana uhibbullahu” yang berarti saya mencintai Allah hanya akan menjadi buah bibir saja yang siapa saja bisa mengucapkan termasuk anak-anak TK bahkan burung beo saja bisa melafalkannya. Untuk diterimanya ucapan tersebut harus ada persyaratannya atau masyru’ yaitu fattabi’ûni yaitu ikutilah Aku Muhammad.

Di dalam QS Ali‘imrân [3]: 31 Allah memberikan syarat jika benar-benar cinta kepada Allah maka syaratnya harus mau mengikuti (mencintai) Rasulullâh.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.` Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS Ali’imrân. [3]: 31)

Dalam tafsir ayat tersebut diterangkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan seruan Rasulullâh kepada Ka’ab bin al-Asyraf dan orang yahudi yang mengikutinya supaya mereka beriman. Para pendeta Yahudi dan pengikutnya mengatakan “kami ini anak-anak Allah dan kekasih-Nya. Kemudian Allah menyuruh rasul mengatakan kepada mereka bahwa “Aku ini utusan Allah kepadamu sekalian, akan menyeru kamu agar beriman kepada Nya. Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku dan kerjakanlah perintahku. Niscaya Allah mencintai dan meridhai kamu.

Ayat ini memberikan keterangan yang kuat untuk mematahkan pengakuan orang-orang yang mengaku mencintai Allah pada setiap saat, sedang amal perbuatannya berlawanan dengan ucapan-ucapan itu. Bagaimana mungkin dapat berkumpul pada diri seorang cinta kepada Allah dan mendurhakai perintah-perintah-Nya. Siapa yang mencintai Allah, tapi tidak mengikuti jalan dan petunjuk Rasulullâhshallallâhu ‘alaihi wa sallam maka pengakuan cinta itu adalah palsu dan dusta, Rasulullâh bersabda: “Barangsiapa melakukan perbuatan tidak berdasarkan perintah kami maka perbuatan itu ditolak“. (HR Imam Bukhari)

Pertimbangan lainnya mengapa kita harus mencintai Rasulullâh adalah karena besarnya jasa Rasûlullâh kepada kita. Rasûlullâh rela menderita hidup sederhana dalam keadaan miskin, terusir dari kampung halamannya, mendapat julukan majnun (gila) dan dimusuhi kaumnya demi memperjuangkan kebenaran iman yang bisa kita nikmati saat ini. Jasa Rasûlullâh terlalu banyak dan terlau besar kepada kita sampai melebihi jasa orang tua kita sendiri dan melebihi jasa guru kita. Rasûlullâh rela mengorbankan segala yang dimilikinya demi tegaknya Islam untuk keselamatan dan kedamaian diri kita sampai akhirat kelak. Demi memikirkan umatnya termasuk diri kita maka Rasûlullâh lebih makan sehari tidak sehari puasa, lebih memilih menjadi seorang hamba daripada seorang raja, lebih memilih miskin daripada kaya serta lebih memilih  akhirat daripada dunia dan wanita.  Kehidupan beliau adalah kehidupan terbaik yang menjamin keridhaan Allah karena budi pekertinya yang agung, kedalaman ilmunya, kebersihan hatinya dan paling ringan beban dunianya.

Cara Menumbuhkan Cinta Kepada Rasûlullâh

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah bagaimana cara menumbuhkan cinta kepada rasul. Menurut pengalaman biasanya seseorang dicintai karena adanya kelebihan dan keutamaan dimilikinya baik dari aspek fisik karena kecantikan atau ketampanannya, aspek ekonomi karena hartanya, aspek penampilan karena keindahan perhiasannya, aspek bakatnya karena keterampilan yang luar biasa dan aspek sosial karena kebaikan akhlaq kepada sesama, aspek ruhani karena keshalihan kepada sang pencipta, aspek rasio karena kepintaraannya dan aspek emosi karena lembut perasaannya.

Cinta kepada orang tua atau kepada istri tentunya tumbuh karena  ada keutamaan-keutamaan yang melekat kepada orang tua atau istri sehingga menjadi kebaikan yang tertanam dan membuahkan rasa cinta. Untuk memahami betul keutamaan dan kelebihan atau kebaikan dari seseorang sehingga kita akan mencintainya hanya dapat dilakukan jika kita telah mengenal secara baik orang tersebut dari luar dan dalam. Secara alamiah jika sudah mengenal betul kebaikannya maka akan timbul rasa cinta. Oleh karena itu cinta tidak akan bisa dipaksakan meskipun cinta bisa juga ditumbuhkan dengan tipuan sehingga timbul cinta terlarang atau tipuan cinta. Timbulnya cinta terlarang ini atau tertipu oleh cinta ini karena salah manajemen cinta dalam hidupnya sehingga banyak manusia yang sengsara justru karena cinta tersebut.

Untuk bisa mencintai  Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam jalan pertama yang harus ditempuh adalah banyak mengenal pribadi Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sampai menemukan keutamaan, kelebihan dan kebaikan Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam secara lengkap dan utuh. Membaca sejarah nabi atau sirah nabawi bisa memunculkan kepedulian dan rasa simpati kepada perjuangannya sehingga timbul rasa kagum dan tumbuh rasa cinta kepadanya. Mungkin saja rasa cinta umat ini kepada nabi tidak tumbuh karena ketidaktahuan akan kemuliaan nabi tersebut atau karena tidak mengenal perjuangan nabi.

Berbeda dengan para sahabat yang hidup bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan menyaksikan langsung perilaku Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang begitu mulia akhlaqnya sehingga membuat sahabat merasa nyaman dan tenteram serta terhibur. Perhatian Nabi, kesederhanaan Nabi, ketinggian akhlaq Nabi telah menjadi daya tarik seperti magnet bagi para sahabat untuk mencintainya dalam keadaan apapun.

Usaha untuk menumbuhkan cinta kepada rasul harus dimulai dari mengenal Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam secara biografi, mengenal orang tua, mengenal keluarganya (ahlul bait) termasuk anak dan istrinya, mengenal perjuangannya, mengenal perilakunya atau kebiasaan sehari-harinya, mengenal penderitaanya, mengenal sahabatnya, mengenal mutu ibadahnya dan mengenal sifat-sifat mulianya. Pembacaan kitab Barzanzi sebenarnya dalam rangka mengenal secara dekat dengan Rasulullâh sejak lahir sampai mati namun sayang pembacaan kitab Barzanzi itu berubah menjadi sebuah tradisi ritual belaka.

Cara berikutnya untuk menumbuhkan dan menjaga cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mempraktekkan gaya hidup Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam (sunah) dalam kehidupan kita selama 24 jam sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Apabila hal ini bisa dilakukan maka secara pelan-pelan cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam semakin bertambah sampai akhirnya timbul keinginan untuk menjadikan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam hidupnya. Sosok Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan dijadikan panutan atau teladan yang cocok untuk segala profesi atau kedudukan baik sebagai orang tua, anak, sahabat, guru, dokter, pedagang, pemimpin, penggembala, hamba atau raja.

Langkah berikutnya untuk memantapkan cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah melanjutkan perjuangan beliau dalam menyampaikan agama kepada seluruh umat manusia sampai datangnya hari kiamat. Dalam QS al-Jumu’ah [62]: 2 ditegaskan tugas Nabi Muhammad untuk membacakan ayat-ayat Allah (dakwah), menyucikan jiwa dengan dzikir dan ibadah dan mengajarkan ilmu dan hikmah.

هُوَالَّذِى بَعَثَ فِى اْلأُمِّيِّيْنَ رَسُوْلًا مِنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِى ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ

“2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS al-Jumu’ah [62]: 2)

Mendakwahkan kepada sesama manusia bahwa kejayaan atau kesuksesan hidup terdapat dalam pengamalan sunah nabi. Bahkan dikatakan oleh Rasulullâh barang siapa menghidupkan sunah Rasulullâh pada zaman yang fasad (rusak) akan mendapatkan pahala 100 orang mati syahid. Padahal untuk mati syahid pada zaman Rasulullâh begitu sulit dan penuh penderitaan tetapi bagi umat akhir zaman bisa mendapatkan pahala mati syahid lebih mudah dan lebih banyak. Contoh lain yang menunjukan di dalam sunah ada kejayaan adalah seseorang yang minum dengan gelas dilarang  bernafas di dalam gelas supaya tidak tersedak.

Menurut Syeikh M. Sa’ad  salah satu cara menumbuhkan rasa cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah dengan membaca shalawat kepada Nabi setelah shubuh dan setelah ashar masing-masing 100 kali. Rasulullâh menyampaikan bahwa orang yang utama di sisiku pada hati kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku. Hadits lain menyatakan bahwa barang siapa yang membaca shalawat 100 kali sehari maka Allah akan memenuhi 100 hajatnya yaitu 30 di dunia dan 70 hajatnya di akhirat kelak,“Barangsiapa yang bersholawat untukku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [HR Thabarani]. Seyogyanya kita merasa bangga dengan bershalawat kepada Nabi karena shalawat merupakan amalan yang dikerjakan oleh Allah dan para malaikat-Nya.

Hakikat Cinta Kepada Rasûlullâh

Sesungguhnya segala sesuatu pasti ada hakikatnya.  Cinta sebagai ekspresi jiwa yang mengandung sikap positif terhadap objek yang dicintainya pasti akan memunculkan tindakan yang positif berupa rasa suka, rasa rindu, perhatian, kepuasan, keterikatan, kebersamaan, rasa memiliki dan kerelaan berkorban demi sang kekasih. Cinta adalah panggilan hati, ekspresi dan konsekuensi, begitulah kata Kahlil Gibran dalam syairnya, “Apabila cinta memanggilmu, ikutlah dia walau jalannya terjal berliku-liku dan apabila sayapnya merangkulmu pasrah dan menyerahlah walau pedang yang tersembunyi disela sayap itu melukaimu.”

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullâh berkata, “Kecintaan yang benar mengharuskannya mengikuti dan mencocoki di dalam kecintaan apa-apa yang dicintai dan kebencian di dalamapa-apa yang dibenci. Maka barangsiapa mencintai Rasûlullâh dengan kecintaan yang benar dari hatinya, hal itu menyebabkan dia mencintai –dengan hatinya- apa yang dicintai rasul, dan dia membenci apa yang dibenci oleh rasul, ridha dengan apa yang diridhai rasul, murka terhadap yang dimurkai oleh rasul, dan dia menunjukkan kecintaan dan kebenciannya ini dengan anggota badannya”.

Secara sederhana perasaan cinta itu bisa ditandai dengan 5 hal sesuai dengan 5 huruf dalam kata CINTA itu sendiri. Huruf C berarti ‘cepat’ datang ketika dipanggil oleh Rasûlullâh dan juga cepat menunaikan perintah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Perwujudan dari kriteria ini adalah menomorsatukan perintah  dan sunah nabi sebagai priotitas pertama dan utama sesuai dengan QS al-Taubah [9]: 24. Dalam QS al-Nur [24]:51 Allah Azza wa Jalla telah menegaskan sifat dari orang beriman ketika dipanggil Rasûlullâh selalu menjawab dengan kami dengar dan kami taat (sami’nâ wa atha’nâ).

إِنَّمَا كَانَ قَولَ ٱلمُؤمِنِينَ إِذَا دُعُواْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحكُمَ بَينَهُم أَن يَقُولُواْ سَمِعنَا وَأَطَعنَا وَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلمُفلِحُونَ

 “51. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh” dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Nûr [24]: 51). Di ayat lain Allah berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤمِن وَلَا مُؤمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلخِيَرَةُ مِن أَمرِهِم وَمَن يَعصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَد ضَلَّ ضَلَٰلا مُّبِينا

 “36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzâb [33]: 36)

Huruf I berarti ‘ingat selalu kepadanya dan hal ini sesuai dengan kejiwaan orang jatuh cinta yang selalu membayangkan kekakasihnya. Bukti dari kriteria ini adalah selalu membacakan shalawat dan salam kepada Nabi dan keluarganya. Huruf ketiga N yaitu ‘nikmat’ jika bertemu, maksudnya orang yang jatuh cinta akan selalu ingin berdua dan bertemu dengan kekasihnya. Dalam kaitan dengan cinta kepada Rasûlullâh yang sesuai dengan kriteria ini adalah menikmati setiap kisah keteladan Rasûlullâh dalam segala aspek kehidupan sesuai dengan QS al-Ahzâb [33]: 21.

Huruf T artinya ‘taat’ selalu padanya karena tidak ingin mengecewakan sehingga semua perintahnya dan permintaannya selalu dipenuhinya. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam QS al-Hasyr [59]: 7,

 وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ اْلعِقَابِ

7. …Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al-Hasyr [59]: 7)

Huruf A artinya ‘apa saja’ dikorbankan untuknya. Hal ini bermaksud bahwa segala sesuatu yang kita miliki harus rela untuk dihabiskan demi menyenangkan sang kekasih. Dalam hadits yang pendek Rasûlullâh menegaskan bahwa hakikat cinta kepadanya adalah dengan menghidupkan sunah-sunahnya. Rasûlullâh pernah bersabda: ”Man ahya sunnati faqad ahabbanî wan ahabbanî kâna ma’iya fil jannah”. Hadis tersebut memberikan arti barang siapa yang menghidupkan sunahku berarti dia cinta kepadaku dan siapa yang cinta kepadaku pasti akan bersamaku di dalam surga. Syarat seseorang dikatakan cinta kepada Rasûlullâ jika orang tersebut mau menghidupkan sunah Rasûlullâh.  Menghidupkan sunah rasul berarti menanamkan sunah rasul dalam hatinya, menjaga sunah dalam perilakunya, dan menyebarkannya kepada manusia lainya. Ibarat menanam pohon supaya hidup dengan baik pohon tersebut sampai berbuah maka harus sering di siram, di pupuk, di obati saat terkena hama dan akhirnya saat panen hasilnya bagus sehingga bisa didistribusikan dan dipasarkan dengan baik kepada siapapun dan kemanapun.

Menurut Syekh Muhammad Saad, sunah nabi adalah segala pola pikir Nabi (syariah), pola penampilan Nabi secara fisik (Surah), dan pola perbuatan atau perilaku Nabi (sirah) dalam konteks habluminallâh dan hamblumminannâs selama 24 jam. Dengan demikian hakikat cinta Nabi adalah memiliki pola pikir Nabi bagaimana semua umat manusia selamat dari azab Allah, memiliki penampilan fisik seperti Nabi dalam berpakaian, berjenggot dan berhias meniru Nabi, menggunakan cara Nabi dalam beribadah dan bermuamalah dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun selama 24 jam. Cinta rasul berarti harus menghidupkan sunah rasul yang meliputi syariah, surah dan sirah. Hal yang perlu diluruskan adalah definisi mengenai sunah nabi yang diartikan sebagai sesuatu yang dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Definisi ini cocok untuk masalah fiqh tetapi untuk adab atau etika kepada Nabi kurang tepat. Definisi  sunah yang tepat adalah seluruh tradisi Nabi yang apabila dikerjakan akan mendapatkan kejayaan dan kesuksesan dan jika ditinggalkan akan membuat kita merugi. Amalan sunah hari ini yang paling menyenangkan Rasûlullâh adalah amalan dakwah sebagai induknya kebaikan  (ummul Hasanah)

Apabila induk ayam dipegang maka semua anak ayam akan mudah dipegang. Demikian halnya dalam hal agama apabila amalan dakwah dikerjakan maka wujud amalan agama yang lainnya seperti dzikir, ta’lim dan pelayanan sosial pasti akan Allah hidupkan dalam kehidupan umat. Pada akhirnya nanti semua perkara dalam kehidupan umat manusia bisa disesuaikan dengan kitabullah dan sunah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hakikat cinta kepada Rasulullâh yang tidak kalah pentingnya adalah mampu menyempurnakan iman dengan cara meletakan seluruh keinginan kita (nafsu) sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullâh (al-Qur’an dan al-hadits). Keinginan untuk makan, minum, tidur, beristri atau menikah, memiliki kendaraan, memiliki rumah, nafsu nonton, nafus jalan-jalan, nafsu bermain dan nafsu terhadap uang atau perhiasan sudah bisa diarahkan supaya sesuai dengan perintah Nabi.

 

Ikhtitâm

Cinta kepada Rasûlullâh merupakan kewajiban setiap Muslim sebagai bukti konkrit dari ikrar syahadat rasul. Cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadi syarat untuk diterimanya cinta hamba kepada Allah Azza wa Jalla. Cinta kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadi ruh dari agama itu sendiri sehingga seseorang tersebut akan berkomitmen dalam menjalankan agama sesuai tuntutan atau sunah Nabi Muhammaad. Kesempurnaan iman hanya akan dapat dicapai dengan mencintai rasul dengan sebenarnya dan kecintaan kepada rasul akan tercapai dengan cara menghidupkan sunah rasul yang meliputi surah, sirah dan syariah.

Rasulullâh bersabda, “Barang siapa yang menghidupkan sunahku berarti cinta kepadaku dan akan masuk surga bersamaku.” Pendekatan yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan dan memupuk rasa cinta kepada Rasûlullâh adalah mengenal biografi Nabi Muhammad, mempraktekan cara kehidupan Nabi dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali minimal 10 persen dari waktu yang tersedia, melanjutkan misi Rasûlullâh, membaca shalawat Nabi, menyampaikan akan pentingnya sudah demi kesuksesan hidup manusia dan terakhir berdoa kepada Allah Azza wa Jalla. Hakikat cinta kepada rasul adalah memprioritaskan kepentingan agama atau akhirat di atas kepentingan dunia atau mementingkan 3 perkara di atas 8 perkara sampai mempunyai kesiapan mengorbankan yang paling dicintainya untuk Allah, Rasûlullâh dan jihad fisabilillah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Kumpulan Khutbah and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply