KHUTBAH IEDUL QURBAN 2014

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3

 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar x9 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Pesan penting dari Baginda Rasulillah saw. kepada kita semua umatnya, dan pesan tersebut mengandung peringatan keras, dimana ada satu golongan manusia yang digambarkan hidupnya menjadi terkucil dan terasing, merasakan kesendirian meski sedang dalam kebersamaan. Tiada perlindungan dan pertolongan, susah tanpa tahu sebabnya, sedih tanpa mengerti masalahnya. Jalan nampak gelap gulita, tidak tahu arah yang harus ditempuh, tidak ada solusi hidup dari masalah yang sedang dihadapi. Kalau berdoa, doanya tidak dikabulkan, kalau minta tolong, pertolongan-Nya tidak diturunkan. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Iman Ibnu Majah dan Iman Ibnu Hiban RA.:

  عن عائشة رضي الله عنها قالت :   دخل عليَّ النبِىُّ صلى الله عليه وسلم. فعرفتُ فى وجهه أن قد حضَره شىءٌ . فتوضاء وما كلّم احدا. فلصقت بالحجرة اَسْتَمِعُ ما يقول . فقعَد على المنبر , فحمد اللهَ وأثْنَى عليه وقال: يأيها الناس ان اللهَ يقول لكم : مُرُّوا بالمعروف وانتَهُوا عن المنكر قبل أن تَدْعُوْا فَلَا اُجِيْبُ لَكُمْ وَتَسْأَلُوْنِي فَلاَ اُعْطِيْكُمْ وَتَسْتَنْصُرُوْنِي فَلاَ أَنْصُرُكُمْ . فَمَا زَادَ عَلَيْهِنَّ حَتَّى نَزَل.

Dari A’isyah ra berkata : ”Nabi saw masuk kepadaku, aku lihat di wajahnya seakan telah terjadi sesuatu, kemudian Beliau mengambil wudhu’ menuju mimbar dan tidak berkata sedikitpun. Aku mendekat ke dinding mendengarkan apa yang akan disabdakan. Beliau duduk di mimbar, memuji kepada Allah dan mengagungkan-Nya seraya bersabda: ”Wahai manusia sungguh Allah berfirman kepada kalian: berbuatlah “amar ma’ruf dan nahi anil mungkar”, sebelum engkau berdo’a, do’amu tidak Aku kabulkan dan engkau meminta kepada-Ku, permintaanmu tidak Aku berikan dan engkau minta tolong kepada-Ku, pertolongan itu tidak Aku berikan. Baginda Nabi SAW tidak menambahkan lagi selain itu sampai beliau turun dari mimbar.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Jika orang tidak mau melaksanakan Amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka do’anya tidak dikabulkan, permintaannya tidak dipenuhi, kalau minta tolong, pertolongan dari-Nya tidak diturunkan.

Ya Allah, apakah benar ada orang berdo’a tapi do’anya tidak dikabulkan?

Padahal Engkau berfirman:

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Apakah benar ada orang meminta, permintaannya tidak diperkenankan? Padahal Engkau berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Apakah bisa hal itu terjadi, padahal sungguh benar firman Allah dan sungguh benar sabda Rasulullah dan Allah sedikitpun tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Jika hal tersebut memang benar bisa terjadi?

Terus apa yang harus dilakukan manusia ketika dia jauh dari Rahmat Allah? ketika jauh dari lindungan dan pertolongan Allah?

Bagaikan orang pulang kampung, di tengah kota yang luas, ketika didapati pintu-pintu sudah tertutup rapat, padahal suasana gelap dan mencekam, tentu orang tersebut akan tinggal dalam kebingungan, tidak ada tempat berlindung dari kedinginan dan ancaman bahaya.

Tidak hanya itu saja, bahkan hayalan yang menghantui pikiran terkadang datang lebih seram dari kenyataan. Karena kabel yang menghubungkan diri kepada unsur energi yang Maha Tangguh telah terputus, jaringan dan infrastruktur telah hancur, maka manusia akan tinggal sendiri dalam kebingungan, tidak ada pedoman, tidak ada pijakan. Jalan semakin suram, tidak ada kepercayaan diri, serba takut dan serba kuatir, akhirnya orang terjatuh dalam kegelapan dan terombang ambing oleh hayalan bahkan terkadang ilmu dan rasionalitas bisa menjelma menjadi harimau atau serigala yang senantiasa siap menerkam. Itulah gambaran orang yang hidupnya sengsara, karena enggan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, meski sedaif-daif iman.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Yang dimaksud “amar ma’ruf nahi anil mungkar” bukan hanya menganjurkan orang lain berbuat baik saja atau mencegah kemungkaran yang diperbuat orang lain saja, melainkan juga dan yang penting harus memulainya dari diri sendiri. Beramal bakti untuk meningkatkan kualitas hidup menuju lebih baik, menjauhi keburukan yang bisa menjadikan diri terpuruk dalam kehinaan supaya hidup menjadi lebih sempurna baik secara kualitas maupun kuantitas.

Telah berlaku kehendak Allah, menjadikan manusia sebagai kholifah-Nya di muka bumi. Telah berlaku sunnatullah, memberikan potensi kepada manusia sebagai penggerak dan sumberdaya alam. Baik dengan tenaga dan pikiran maupun perasaan manusia harus berkarya. Membangun sumber kehidupan. Merubah nasib menjadi lebih baik, bukan dalam arti merubah mati menjadi hidup, karena mati dan hidup merupakan mutlak takdir Allah, melainkan meningkatkan kapasitas hidup supaya bisa menjadi lebih baik dan lebih berkuualitas.

Supaya kehidupan di muka bumi berjalan aktif dan dinamis, tidak monoton. Supaya ada gairah dan semangat, maka manusia harus bekerja, membangun cipta dan karya. Manusia yang membuat peraturan dan meletakkan undang-undang namun manusia juga sekaligus menjadi tenaga pelaksana, bahkan sebagai sutradara yang sekaligus aktornya, sampai batas yang sudah ditentukan baginya, dimana selama itu manusia mencurahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk memakmurkan segala sarana yang sudah disiapkan di sekelilingnya.

Allah Swt. memilih manusia sebagai sarana yang bekerja di muka bumi, hal tersebut merupakan ketetapan-Nya sejak alam semesta ini diciptakan. Atas dasar ketetapan itulah maka manusia dapat mengenali dan menguasai alam sekelilingnya, mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang tersembunyi di dalamnya, bahkan menguasai kunci-kunci rahasia bagi ahlinya untuk membuka simpul-simpul kehidupan yang mestinya dirahasiakan. Dengan ilmu dan urusan Allah pula manusia dapat mengenali Tuhannya dan menggapai apa-apa yang yang dijanjikan dan disediakan untuknya, bahkan menciptakan keajaiban bagi diri sendiri.

Sejak pertama kali ilmu pengetahuannya diajarkan kepada kepada manusia dan kemudahan–kemudahan alam semesta dibentangkan baginya, sampai manusia bisa menghasilkan anugerah Allah yang disediakan untuknya, semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan sistem atau sunnatullah yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala baginya. Itulah sistem distribusi rizki untuk manusia, baik rizki lahir maupun rizki batin. Sejak pertama kali diciptakan bersamaan penciptaan alam semesta, sistem tersebut tidak akan pernah dirobah selamanya kecuali manusia sendiri yang merobahnya. Manusia dengan usahanya berpotensi meningkatkan taraf hidupnya dari yang ada menjadi lebih baik dan lebih mulia, dari miskin menjadi kaya seperti dari lapar menjadi kenyang, itu jika dia mau, jika tidak maka selamanya manusia tidak akan menghasilkan apa-apa dalam hidupnya.

Sunnatullah tersebut telah menjadikan manusia ulet bekerja di muka bumi dan sekaligus berlaku sebagai sarana untuk memperteguh pekerjaan. Sunnahtullah itu sebagaimana yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (الرعد:13

Allah tidak merobah keadaan suatu bangsa sehingga bangsa itu sendiri yang merobah dirinya.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Allah SWT. yang Maha Kuasa dengan sendiri-Nya telah menciptakan dan mengatur kehidupan langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya sesuai kehendak-Nya dan sesuai kehendak-Nya pula menjadikan manusia sebagai unsur yang bergerak di dalamnya dengan membawa jiwa dan raga yang membuahkan akal, pikiran, amal dan perasaan.

Bukankah manusia dari asal kejadiannya, daging dan tulang dan bahkan dasar perilaku dalam menjalani kehidupan di muka bumi identik dengan kehidupan binatang melata …?, akan tetapi dengan takdir Allah manusia mendapat kemuliaan sebagai kholifah-Nya di muka bumi, sebagai unsur penggerak yang bekerja di dalam roda kehidupan yang memang tercipta sesuai tabiatnya. Manusia yang harus berbuat, bekerja dan berusaha. Manusia tidak boleh hanya tinggal diam dan membeku saja.

Mengingat dasar itulah, hendaklah manusia melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, beriman dan beramal sholeh, bahkan tidak hanya menganjurkan saja, manusia harus mampu menerapkannya dalam hidupnya sendiri, jika itu dilakukan, maka manusia benar-benar akan menjadi sebaik-baik ummat, demikianlah yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.(QS.Ali Imran 110)

Selanjutnya manusia diperintah, kalau melihat kemungkaran hendaklah ia merobahnya dengan tangannya kalau tidak mampu maka dengan lisannya dan kalau tidak mampu juga maka dengan hatinya walaupun itu adalah sedaif-daif iman.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Kebajikan atau kejahatan bukan bermakna sempit. Bukan sesuatu yang hanya bisa terjadi dalam suatu kejadian atau di suatu lokasi di belahan bumi saja. Segala urusan manusia, besar maupun kecil, bisa dilakukan sebagai kebajikan atau kejahatan. Oleh karenanya manusia harus cermat mengikuti irama kehidupan, mencermati segala proses yang terjadi dengan arif dan bijaksana, memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan benar dan tepat, menegakkan kebajikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran, kalau tidak, maka manusia sendiri yang akan menanggung akibat buruknya, yaitu kerusakan dan kehancuran. Ini adalah sunnahtullah yang tidak akan pernah berobah lagi, berlaku sunnah pula, menurut dasarnya, bahwa hendaklah manusia menganjurkan kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Meskipun segala pilihan dan langkah hidup akan membawa dampak dan konsekwensi, namun demikian manusia juga merupakan satu-satunya sarana untuk mengatur dan memilih langkah dan pilihan tersebut. Apabila manusia memilih beriman dan beramal sholeh, menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran, maka kebathilan tidak akan hidup subur dan berkepanjangan dan yang hak akan menjadi pemenang, memimpin dan menguasai kebajikan.

Akan tetapi manakala yang terjadi sebaliknya, manusia hanya tinggal diam saja, tidak ada kepedulian kepada alam sekitarnya, mereka tidur dari tugas suci, tidak menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Kesibukan manusia hanya melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan urusan lahir saja, sebatas urusan yang berkaitan dengan perut dan hawa nafsu saja, maka kejahatan akan tumbuh subur, kemungkaran akan merajalela di mana-mana yang akhirnya kemaksiatan akan menguasai dan memimpin kehidupan yang ada, demikianlah yang berlaku sunnah dalam sejarah kehidupan manusia sebelum kita yang kemudian menjadikan penyebab hancurnya suatu generasi dan suku bangsa.

Jika keadaan umat mau hidup sadar, saling memperhatikan urusan masyarakatnya, menunaikan segala hak dan kewajibannya, saling mencukupi segala kebutuhan dan kekurangan, mengisi kekosongan, meningkatkan yang sudah ada, meluruskan yang bengkok, memelihara kelapangan dan mengusahakan kemudahan, menggapai pertolongan, menggalang kebersamaan, maka itulah umat yang bahagia dan jaya. Untuk itulah secara individu manusia harus kuat, berusaha sungguh-sungguh menggapai keutamaan yang disiapkan Allah baginya, menjadi pemberi bukan penerima. Adapun umat yang lalai dan malas bekerja, tidak ada kepedulian kepada alam sekitarnya, maka itulah umat yang celaka yang telah dihinggapi penyakit kehinaan.

Menurut sunnahtullah, manusia yang harus mengadakan perobahan, merubah kualitas hidupnya menjadi lebih baik, hal itu bukan berarti Allah SWT. tidak sanggup berbuat banyak kepada hamba-Nya, melaikan itulah ketetapan-Nya. Allah telah membangun hukum sebab akibat, supaya menusia mau beramal, mau berusaha menggapai kemuliaan yang memang diperuntukkan untuknya, untuk menduduki derajat yang mulia disisi-Robb-Nya, menjadi kholifah Allah dimuka bumi ini. Manakala manusia tidak menempatkan dirinya pada kedudukan mulia tersebut, maka akan terlepas dari derajat kemuliaan dan terjerumus dalam kehinaan sebagai derajat binatang melata bahkan lebih hina lagi darinya.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Mana mungkin orang berdo’a dapat dikabulkan tanpa bekerja? Mana mungkin orang bisa mendapatkan hasil hanya dengan berpangku tangan saja tanpa usaha ??. Padahal Allah telah menegaskan dengan firman-Nya: “Manusia akan mendapatkan sesuai apa yang telah diusahakannya”.

Sekarang jalan lurus sudah dibentangkan. Kemudahan-kemudahan hidup, pertolongan dan pemberian, hanya bisa didapatkan dari jalan itu, karena melalui jalan itu berarti manusia memegang janji Allah yang tidak pernah teringkarkan, karena Allah sedikitpun tidak akan mengingkari janji-Nya.

Siapa yang ingin memperoleh kemenangan hendaklah menghadapkan dirinya kepada Pemberi kemenangan yang sudah mengajarkan kepadanya suatu konsep yang simpel dan sederhana akan tetapi membawa ma’na yang strategis dan universal, konsep itu ialah : HENDAKLAH KAMU MELAKSANAKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR dalam arti merubah nasib menjadi lebih baik dan lebih mulia.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Jika kita mau mengambil pelajaran dari fenomena kehidupan di sekitar kita. Terlebih dunia perpolitikan di negeri ini. Secara khusus apa yang kita lihat dalam pelaksanaan Pemilu dan Pilprse 2014 yang barusan diadakan. Betapa kita telah melihat tumpang tindihnya sistem kehidupan. Masing-masing pelaku politik hanya mengedepankan kepentingan pribadi atau golongannya saja, bukan kepentingan rakyat sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan dalam pencitraan. Hingga segala cara seakan menjadi halal dilakukan. Semakin tidak jelas mana yang baik mana yang buruk karena masing-masing mereka merasa benar sendiri bahkan tidak segan-segan dibumbui kemunafikan.

Orang loncat dari partai sana ke partai sini sudah menjadi bukan barang tabu, tidak hanya jadi bajing loncat, bahkan gaya loncat itu malah seakan menjadi kebanggaan. Tidak sadar bahwa hal tersebut menunjukkan kemerosatan moralitas dan kehancuran integritas. Sehingga orang awam semakin sulit membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang tuntunan dan mana yang tontonan, semua dicampur aduk menjadi satu asal kepentingan bisa terpenuhi. Norma-norma Agama sepertinya sudah dihilangkan dalam kehidupan mereka, bahkan menjadi pesakitan KPK karena menggarong uang rakyat menjadi trend yang dibanggakan, meski harus mendekam selama hidup dipenjara seakan menjadi tujuan utama, padahal jika yang demikian itu berlanjut apalagi sampai dibudayakan, maka menurut sunnatullah kehidupan mereka akan menjadi hancur berantakan. Itulah kenyatan yang kita lihat dan kita rasakan namun kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk membuat perubahan.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Marilah kita mengadakan perenungan ke dalam, bukan melamun berkepanjangan dan berharap ada uang jatuh dari kayangan, atau mendapat harta karun dari kuburan yang dikeramatkan, melainkan perenungan dalam rangka persiapan mengadakan perbaikan hidup di mana pun kita berada. Apakah kita hanya tinggal diam saja hanyut dan tenggelam di dalam arus ketidakpastian atau bangkit dari keterpurukan menuju kesuksesan hidup ? maka tidak bisa tidak, mulai sekarang kita harus memulai dari diri sendiri, kemudian anak istri dan keluarga terdekat, teman dan kerabat, untuk bersama-sama melaksanakan anjuran suci ini. Yakni melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, meningkatkan usaha untuk mencapai peningkatan hidup, saling berbagi dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebajikan.

Dimulai dari ucapan dan perbuatan supaya hati kita menjadi kuat dan yakin, itu dilakukan untuk melaksanakan pengabdian hakiki kepada Allah Robbul Alamiin, dengan itu semoga hari-hari kita kedepan semakin menjadi lebih baik, karena do’a-do’a yang kita panjatkan mendapatkan ijabah, disaat kita bermunajat kepada Allah, permohonan kita dikabulkan-Nya dan kalau kita minta pertolongan dari-Nya, pertolongan segera diturunkan, sehingga kita mampu mengadakan perubahan dan membangun keseimbangan hidup, meningkatkan taraf hidup baik secara ilmiyah maupun amaliyah, meski hanya untuk diri sendiri dan jama’ah, menjadi komunitas yang kuat karena dekat dengan lindungan dan pertolongan Allah Tuhan Semesta Alam, …. amiin ya mujibas sa’iliin.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قُرِءَ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون :   لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم . ثم رددناه أسفل سافلين . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون .

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم .

 وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

 

Khutbah Kedua

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Khutbah-Hari Raya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply