KHUTBAH IEDUL FITRI 2017

الله أكبر –9

الله أكبر كبيرا  والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا . لااله إلا الله وحده. صدق وعده.  ونصر عبده. وأعز جنده  وهزم الأحزاب وحده. لااله إلا الله  ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين  ولو كره الكافرون .

الحمد لله رب العلمين, والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين, وعلى آله وصحبه حَمْلَةِ لواء الدين, واَنْجُمِ الهداية للمقتدين والواصلين.

اشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين . واشهد أن محمدا عبده ورسولُه النورُ المُبِيْن والشراجُ المُنِيْرِخاتِمُ النبيِّين.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحبه وأزواجه وذرياته ومن تبعهم إلى يوم الدين .

أما بعد  : فيا إخوانَ الكرام  ,  اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون.

قال الله تعالى في القران الكريم  :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات 56)

وقال ايضا وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (النساء 9)

 

Allahu Akbar x3, Allahu Akbar x3, Allahu Akbar x3, Allhu Akbar Walillahil Hamd

Ma’a-syiral Muslimin Rahimakumullah.

Sejak semalam sampai dengan pagi ini suara takbir tahmid dan tahlil mengu mandang di seluruh belahan bumi. Kalimat Thoyibah yang dipancarkan oleh semangat iman yang telah dibangkitkan kembali, karena selama setahun penuh semangat itu menjadi loyo dan bahkan mati suri. Takbir yang melapangkan rongga dada, bagaikan pelita yang dinyalakan maka ruangan yang asalnya gelap gulita menjadi terang ben derang atau bagaikan air hujan yang dicurahkan dari langit, menghidupkan bibit-bibit yang tertimbun tanah, hamparan hati yang lama gersang dan mati menjadi subur dan bergairah kembali. Bibit-bibit kebaikan itu yang selama ini seakan mati, karena lama tidak terurusi, kini bersemi. Itulah hidayah Ilahiyah, semata atas kehendak dan rahmat Allah telah tercurahkan di muka bumi, di hati sanubari, maka Iman ditumbuh kan kembali, semangat dibangkitkan, pera saan seperti terjaga dari mimpi. Sadar akan kesalahan, menyesal akan dosa-dosa dan bertaubat dihadapan-Nya dengan taubatan nasuhah.

Alhamdulillah, di pagi ini, di masjid yang kita cintai ini, hati-hati yang telah disinari hidayah dan iman itu telah siap menggerakkan kaki serta tangan kembali, meniti langkah mengisi lembaran baru. Apapun keadaan yang telah terjadi, bagaimanapun suasana yang dialami, tetap semangat untuk menorehkan sejarah dengan karya dan cipta, menggoreskan catatan baru dalam lembaran yang dikosongkan, karena berkat Bulan Suci yang penuh rahmat dan maghfi roh, kesalahan dan kerak dosa yang terka dang mengeruhkan matahati, kini telah terhapuskan dan kembali menjadi bersih.

Pagi ini tanggal 1 Syawal 1438 H. Orang beriman di seluruh belahan bumi sedang mencurahkan isi hati, curhat kepada Tuhan nya dengan penuh haru dan tawadhu’ meng ungkapkan rasa syukur atas karunia dan hidayah yang tidak terkira, mengumandang kan Takbir untuk membesarkan Tuhannya, Tasbih untuk mensucikan-Nya, Tahmid untuk memuji-Nya. Haru karena kebesaran-Nya sulit digambarkan dalam perasaan, tawadhu’ karena merasa diri begitu kerdil di hadapan-Nya. Dialah Allah yang Maha Agung, tiada tuhan yang layak disembah kecuali Dia. Bibir telah basah oleh kalimat dzikir, telinga menjadi bolong karena diberondong gema takbir, lisan jadi kelu karena didekap perasaan haru. Jiwa bergetar, raga merana, persendian lemah lunglai, mata air mengucur tak terbendung  kan, ketika hati sadar betapa Agung anugerah-Nya, betapa luas kasih sayang-Nya, namun juga betapa sedikit rasa syukur yang telah dipanjatkan kepada-Nya.

Di tengah gegap gempita yang membahana itu, ada suasana syahdu menusuk kalbu, menyadarkan diri akan hakikat penciptaan dan pemeliharaan: Bahwa Dia Yang Maha Perkasa adalah Sang Pencipta dan Sang Pemelihara diri ini, diciptakan dan dipelihara supaya hanya kepada-Nya diri ini bisa mengabdi. Dibukakan hati untuk beriman dan dimudahkan langkah untuk beramal sholeh supaya bisa membawa kemanfaatan untuk diri pribadi. Suami mengabdi kepada istrinya, istri mengabdi kepada suaminya, ayah kepada anak-anaknya, anak kepada orang tuanya, pemimpin kepada masyarakat nya dan masyarakat kepada pemimpinnya, namun semua itu dibangun atas dasar niat semata-mata mengabdi kepada Allah Swt. Mulai penciptaannya, keberadaannya, keadaannya bahkan sampai saat manusia harus kembali tenggelam di perut bumi, sepanjang hidupnya dia harus mengabdi. Siang digerakkan, malam didiamkan, Alam semesta dalam kendali tangan-Nya, susah dimasukkan dalam senang dan senang dimasukkan dalam susah, diputar bergiliran dalam roda kehidupan, semua itu tiada lain merupakan bentuk kasih tersembunyi dan wahana supaya manusia bisa mengabdi.

Jikalau sekiranya kesadaran suci ini selalu terpelihara di dalam setiap hati sanubari, jikalau hamparan hati selalu tersinari hidayah suci, tentu tidak akan ada lagi diantara kita menjadi manusia bodoh, manusia sombong, manusia bebal dan tak tahu malu di hadapan diri sendiri. Semua akan bangkit dari kemalasan dan keterpu rukan, sadar akan kesalahan, tetap sema ngat untuk berbenah, tidak putus asa atas rahmat Allah meski sedang tertimpa musi bah, karena semua yang terjadi pasti terjadi atas kehendak-Nya dan yang pasti pula semua itu akan membawa hikmah.

Itulah suara suci, suara fitrah manusia yang hakiki. Suara suci itu pagi ini kembali diresapkan dalam hati melalui kumandang takbir panjang semalam suntuk meski di lain kesempatan suara suci itu sering kali terlupa kan walau kita sedang bertakbir dalam sembahyang. Itu bisa terjadi, karena kesalahan-kesalahan, dosa-dosa dan nafsu rendah sering kali terabaikan sehingga kurang adanya pembenahan. Akibatnya gairah iman jadi lemah, suaranya hanya sayup-sayup seakan terdengar dari kejauhan, kadang muncul dan kadang menghilang ditelan alam. Pada pagi yang penuh berkah ini, setelah satu bulan penuh nafsu dan sahwat ditundukkan oleh hidayah suci, maka suara itu kembali dikumandang kan untuk membangkitkan jiwa mati, inilah Idul Fitri,

Allahu Akbar ,Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Allahu Akbar x3, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ma’a-syiral Muslimin Rahimakumullah.

Bagian yang penting dalam melaksanakan pengabdian hidup ini, yang tidak kalah pentingnya dengan apa yang sudah disampaikan di muka,  adalah mempersiap kan generasi penerus perjuangan yang kuat dan canggih. Kuat dalam arti menguasai ekonomi sehingga mampu menjadi orang yang bisa memberi, tidak menjadi dhu’afa yang lemah yang berakibat bisanya hanya meminta-minta dan berharap bantuan orang orang lain. Adapun yang dimaksud generasi yang canggih adalah manusia yang mengua sai ilmu pengetahuan yang luas, mengenal tehnologi dan mempunyai jiwa raga yang kuat, ulet dalam berusaha dan tahan banting dalam menghadapi tantangan dan kompetisi hidup yang melelahkan.

Hal tersebut dinyatakan Allah dalam firman-Nya :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (النساء 9)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejah teraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(An-Nisa/9)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini berkaitan dengan seorang lelaki yang sedang menjelang ajalnya tiba, lalu ada seorang lelaki mendengar bahwa dia mengucapkan wasiat yang berpotensi menimbulkan mudlarat terhadap ahli warisnya. Maka Allah Swt. memerintahkan kepada orang yang mendengar wasiat tersebut supaya bertak wa kepada Allah, dan membimbing si sakit serta meluruskannya ke jalan yang benar. Hendaknya si sakit mempertimbangkan keadaan para ahli warisnya. sebagaimana diwajibkan baginya berbuat sesuatu untuk ahli warisnya, bila dikhawatirkan mereka akan terlunta-lunta.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Di dalam sebuah hadis dalam kitab Sahihain disebutkan seperti berikut:

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم لَمَّا دَخَلَ عَلَى سَعْد بْنِ أَبِي وَقَاصٍّ يَعُودُهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةً، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ: “لَا”. قَالَ: فالشَّطْر؟ قَالَ: “لَا”. قَالَ: فَالثُّلُثُ؟ قَالَ: “الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ”. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إنك أن تَذَرَ وَرَثَتَك أغنياءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهم عَالَةً يَتَكَفَّفُون النَّاسَ”

Ketika Rasulullah Saw. masuk ke dalam rumah Sa’d ibnu Abu Waqqas dalam rangka menjenguknya, maka Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta, sedangkan tidak ada orang yang mewarisiku kecuali hanya seorang anak perempuan. Maka bolehkah aku menyede kahkan dua pertiga dari hartaku?” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak boleh.” Sa’d bertanya.”Bagaimana kalau dengan separuhnya?” Rasulullah Saw. menjawab, “Jangan.” Sa’d bertanya, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Rasulullah Saw. menjawab, “Sepertiganya sudah cukup banyak.” Kemudian Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya kamu bila meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik daripada kamu membiar kan mereka dalam keadaan miskin meminta -minta kepada orang.

Demikianlah apa yang disampaikan oleh Baginda Nabi Saw dalam sabdanya tersebut. Bahwa : “Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik daripada kamu membiarkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada orang.” Shodaqohllahul Adhiim wa Shodaqo Rosulul Karim.

Ma’a-syiral Muslimin Rahimakumullah.

Namun tentunya yang dimaksud dengan generasi penerus yang kuat itu bukanlah seorang anak yang telah mendapatkan harta warisan yang banyak dari orang tuanya saja, tetapi juga telah mendapatkan bimbingan ilmu dan amal sehingga mampu menjadi orang yang mempunyai jiwa dan raga yang kuat. Banyak kita lihat dalam kenyataan hidup, bahwa berapa banyak orang mendapatkan warisan harta yang besar dari orang tuanya, namun karena tidak didukung dengan penguasaan ilmu pengeta huan yang luas dan kemampuan yang memadai dalam mengelola harta dadakan tersebut serta hati yang lapang dan jiwa yang kuat, maka dalam waktu singkat harta warisan tersebut lenyap begitu saja seperti daun kering ditiup angin kencang. Dalam waktu singkat harta yang dibanggakan itu tidak berbekas sama sekali bahkan malah menyisakan penderitaan panjang bagi pemi liknya. Tidak hanya itu saja, adanya harta dadakan itu terkadang malah menimbulkan percekcokan dan perpecahan sehingga berakibat terputusnya hubungan silaturra him antar keluarga.

Yang dimaksud generasi penerus yang kuat itu adalah generasi yang kuat lahir dan batin, jasmani dan ruhani. Lahir dikuati dengan ilmu pengetahuan yang luas dan batin dikuati dengan iman dan yakin. Jasmani dikuati dengan penguasaan ekonomi yang mapan dan ruhani dikuati dengan jalan amal, wirid, doa dan mujahadah yang istiqomah. Untuk hal yang besar ini tentunya bukan sesuatu yang bisa diharapkan datang sendiri turun dari langit ke bumi, melainkan merupakan pencapaian yang harus diperju angkan seumur hidup, sepanjang ada kemampuan dan kesempatan, bahkan sejak sekarang selama orang mampu berusaha dan ada peluang serta ada kesempatan. Setiap individu tidak boleh melupakan hal yang sangat penting ini. Jangan karena kesibukan untuk mencukupi kebutuan makan, sandang dan papan yang menyita waktu dan pikiran, kemudian kita jadi terlena sehinga lupa akan hal yang sangat penting ini.

Ma’a-syiral Muslimi-n Rahimakumulla-h.

Mengapa menyiapkan generasi penerus yang kuat dikatakan sangat penting? Karena kalau generasi penerus kita terdiri dari orang-orang yang lemah lahir batin, maka apa-apa yang sudah kita hasilnya hari ini, setelah kita mati berkolong tanah, akan menjadi sia-sia belaka dan bahkan bisa meninggalkan kemadhorotan manakala tinggalan-tinggalan tersebut menjadi rebut an banyak orang, wal iyyadzu billah.

Membentuk jiwa yang kuat itu tidak hanya dengan membekali seseorang dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang luas saja, namun juga dan lebih penting adalah penerapan ilmu tersebut dalam latihan hidup sehari-hari. Orang tidak boleh bangga dengan ilmu yang dimiliki kemudian merasa aman dengan masa depan yang akan dilalui. Ilmu saja tidak cukup, jika tidak dibarengi kemampuan hidup yang memadai dan pengalaman serta jam terbang tinggi dalam mengarungi romantika kehidupan yang dilalui, maka ilmu itu bagaikan pohon rindang tapi tidak berbuah. Bisa digunakan untuk mencari uang dengan mengajarkan nya kesana kemari atau menasehati orang yang sedang butuh dinasehati, tapi pada giliran untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, untuk menyembuhkan penyakit hati yang kadung terselip di rongga dadanya sendiri, ilmu dan amalnya itu tidak dapat menjadi obat penawar racun bagi kehidupannya sendiri.

Ma’a-syiral Muslimin Rahimakumullah.

Allah tidak mendiamkan orang yang mengaku beriman tanpa mengujinya, demikianlah yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)

Apakah manusia mengira dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? ( 3 )   Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.Al-Ankaboot/2-3)

Ujian hidup tersebut, disamping untuk membenarkan adanya iman pada diri seseorang, sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya di surat Al Ankabut tersebut, juga sesungguhnya merupakan Tarbiyah Ilahiyah dan wahana latihan hidup yang sangat efektif untuk menjadikan iman yang ada meningkat menjadi yakin. Bagaimana orang bisa merasakan manis nya iman sehingga mampu meneguhkan keyakinan dalam hatinya tanpa pernah melewati masa-masa sulit dan kemudian diselamatkan darinya.

Kenikmatan hidup yang tidak terbantahkan, bahkan oleh kehidupan itu sendiri manakala orang beriman berhasil melewati masa ujian hidupnya dengan selamat, itu sama dengan kenikmatan orang puasa saat berbuka setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga. Kenikmatan itulah yang menjadikan hati orang beriman menjadi yakin, bahwa sesungguhnya kepahitan hidup sementara yang telah dialaminya ternyata merupakan karunia besar baginya, supaya jiwanya menjadi kuat dan perkasa, supaya dirinya menjadi lebih baik dari semula, tanpa latihan hidup tersebut tidak mungkin orang mampu mendapatkan karunia yang agung itu.

Nabi Ibrahim as suatu saat pernah menanya kan tentang generasi penerus perjuangan ini kepada Allah, sebagaimana yang dinyata kan Allah dalam surat Al Baqoroh: 124

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menyempurnakan nya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.(QS.Al-Baqoroh/124)

Keturunan seorang Nabi Besar seperti Nabi Ibrahim as saja tidak dijamin bisa menda patkan warisan janji Allah yang diberikan kepada orang tuanya, kalau keturunannya tersebut berbuat zalim, apalagi keturunan orang biasa. Jadi, anak orang besar memang berpotensi menjadi orang besar, karena mendapatkan anugerah Allah dari rahasia atau sirr warisan orang tuanya, asal anak tersebut tidak berbuat zalim. Maka yang terpenting dalam konsep mempersiap kan generasi penerus yang canggih ini bukan harus dilakukan oleh orang tua saja, tetapi juga oleh anak-anaknya dan juga oleh kita semua.

Sadar akan hidup bahwa setiap anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dan kesuksesan hidup yang diidam-idamkan semua orang, bukan sesuatu yang bisa datang dengan sendirinya turun dari langi ke bumi melainkan merupakan hasil usaha dan pengabdian hakiki serta pencapaian hidup yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, maka setiap orang yang ingin mendapatkan kesuksesan hidup harus memperjuangkannya, baik seorang ayah untuk anak-anaknya dan anak-anaknya untuk dirinya sendiri.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون. وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون :   لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم. ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم .   وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ

وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَْلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

by KH. Luthfi Ghozali, Ponpes Al Fitrah Gunung Pati

 

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Khutbah-Hari Raya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply