FAKTOR GENETIK MEMBANGUN KARAKTER MANUSIA?

genetik genetik2 genetik3

 

 

 

 

Manusia adalah makhluk yang bebas dan memilih(ikhtiar), yang bisa mencari jalan nasibnya. Dari sisi lain, manusia ditentukan oleh garis keturunannya. Mereka katakan bahwa orang tua tidak hanya menurunkan sifat-sifat lahiriah pada si anak, namun juga bisa melahirkan karakter si anak yang mencakup sisi kebaikan dan keburukan. Apakah faktor genetik ini mempunyai pengaruh yang dominan membentuk karakter si anak , dan bagaimana pula hubungan dengan kebebasan manusia (ikhtiar) dalam membangun karakternya?

 

Dan yang terpenting yang dibahas oleh para psikolog disini, adanya sebuah perubahan kepribadian (karakter), Cattel berkeyakinan, satu pertiga perubahan kepribadian dipengaruhi oleh faktor genetik dan dua pertiga yang lain dipengaruhi oleh faktor lingkungan.[1] Namun E. Fromm tidak menyakini bahwa karakter akan statis dimasa usia lima tahun, dan kenyataan selanjutnya bahwa karakter manusia bisa mengalami perubahan[2].

Namun kita katakan bahwa faktor genetik bukanlah sebuah faktor yang menghalangi pengaruh pendidikan. Oleh karenanya, kita tidak melihat dan tidak pula mendengar seorang ibu melarang anaknya untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran, dia akan mempermasalahkan terhadap apa yang diinginkan anaknya atas keberhasilan, bahwasannya pasti tidak akan tercapai, dikarenakan ia beranggapan bahwa si anak telah terwarisi sifat dan akhlaknya. Jadi, selain faktor genetik sebagai faktor yang berpengaruh, juga terdapat faktor lainnya yang sangat bekerja aktif pada diri manusia, diantara yang terpenting adalah: pendidikan, kondisi keluarga, masyarakat, ekonomi, budaya, makanan, udara, iklim dan sebagainya. Dari faktor-faktor tersebut dapat disingkat dengan sebuah kata, yaitu: lingkungan.

Oleh karenanya, pengaruh sifat perubahan lingkungan yang ada pada diri manusia ada dua bentuk pemisalan:

1. Sifat dan kriteria yang nampak dalam bentuk kemampuan dan kesiapan manusia, seperti: penyakit TBC, seorang anak yang dilahirkan dari orang tua yang berpenyakit demikian, akan berpotensi pula akan terserang penyakit tersebut. Akan tetapi jika anak tersebut sudah dipisahkan sejak lahirnya dan dipindahkan ke lingkungan yang sehat, maka memperoleh kesehatannya.

2. Anak yang dilahirkan melalui asal usul genetik yang baik, maka perkembangan anak tersebut nantinya akan beradaptasi dengan lingkungan dimana ia tinggal. Jika ia tinggal dalam lingkungan yang kurang mendukung, maka kemampuannya pun akan pudar. Begitu juga sebagai sesuatu yang mungkin melalui pengaruh iklim dan makanan dapat merubah kondisi badan bagi manusia. Sebagaimana akhlak dan adat setempat dalam sebuah lingkungan akan membuat perubahan pada tingkatan ruh dan kejiwaan manusia.

Akan tetapi saya disayangkan, sebahagian manusia memiliki pandangan keliru, yang lupa akan peranan lingkungan pada kehidupan manusia. Mengekspresikan lingkungan tersebut pada pemikiran mereka, seperti para penyair, dengan membuat pikiran mereka menyatu dengan lingkungan selain hanya bait syair yang mereka sebutkan terasa indah. Seorang penyair berkata:

Sesungguhnya pohon yang jelek jelek pulalah sifatnya

Walau ia tumbuh di taman surga

Yang dapat disimpulkan dari syair ini adalah pohon yang jelek tidak akan memberikan sesuatu kecuali buah yang jelek, kita juga dapat memberikan contoh yang lainnya seperti racun yang ditaburi oleh bahan yang manis (racun di dalam madu), pohon kurma yang hanya membuahkan kurma (tidaklah selain kurma), dan sebagainya.

Dalam Islam diajarkan bahwa seseorang dalam kondisi bebas (memilih) untuk merubah karakternya. Yang memiliki akhlak yang baik, mungkin saja karena atas perintah hawa nafsunya, akan terjerumus ke dalam kenistaan. Dan yang memiliki akhlak yang jelek, melalui penerangan dan bimbingan para ahli ma’rifat dengan berbagai usaha instropeksi diri dapat mencapai puncak kesempurnaan.[3] Lewat pendidikan dan pengajaran inilah adalah sebuah jalan ikhtiar yang dimiliki oleh manusia, dalam merubah dan menemukan jati dirinya. Dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman: “Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.”[4] Disini para psikolog juga mengatakan, bahwa faktor genetik diatas umur tiga puluh tahun adalah sesuatu yang statis dan tanpa perubahan, dan karakter manusia akan selalu berubah disepanjang umurnya disebabkan oleh lingkungan. Syekh Naraqi (almarhum) dalam kitab akhlaknya menyebutkan bahwa nafs manusia mempunyai kesiapan di dalam mensifati adanya kontradiksi antara dua kecenderungan yang berbeda, terhadap sesuatu yang sesuai dengan kecenderungan dan yang berseberangan dengan kecenderungan tersebut. Maka perbedaan masyarakat didalam karakternya bersumber pada pemilihan terhadap bentuk-bentuk luar dari perbedaan tersebut, dan berbagai aktivitas yang berhubungan dengannya. [5]

Adanya sebuah ikhtiar disini, memberikan energi tambahan untuk menuntut sebuah perubahan. Dan ingin menjadikan akhlak yang baik tersebut selalu tertanam (malaka) pada diri kita, juga menjadikannya sebagai adat dalam kehidupan kita. Oleh karenanya, dalam hadist disebutkan bahwa perbuatan baik tersebut dilakukan secara terus-menerus adalah sesuatu yang diharapkan. Dalam kitab hadist Al-Kafi: “Paling dicintai perbuatan disisi Allah Swt, amal yang dilakukan terus-menerus (istiqama) walaupun sedikit.”[6]

Sesungguhnya para nabi tidaklah datang untuk merubah perubahan jasmani atau mengobati penyakit dikarenakan faktor genetik seperti gila, kebodohan dan sebagainya. Tetapi datang untuk keimanan kepada Allah Swt, mendidik dan memberikan pengajaran kepada masyarakat, memahami agama, mendukung kemampuan mereka, menghidupkan akal mereka dan menguasai insting dengan kehendak yang berbeda. Dari sejarah menerangkan kepada kita bahwa para nabi telah membangun kesucian dan kebenaran bagi sebuah realitas budaya manusia dan masyarakat. Untuk menuju ke arah kesempurnaan melalui jalan pergerakan yang suci. Kemunculan Islam sebagai contoh hidup bagi perbuatan yang berharga oleh para nabi yang menghiasi lembaran-lembaran tarikh. Dan masyarakat yang menjauhi ajaran para nabi akan terjadi penyimpangan, dan penyimpangan ini menjadi sebuah akibat bagi keadaan lingkungan dan metode pengajaran. Alhasil, faktor genetik bukanlah satu-satunya yang berpengaruh pada pembentukan karakter manusia. Namun lingkungan dan usaha kita (ikhtiar) untuk memperoleh pengetahuan dan pengajaran ilmu agama (Islam) mempunyai peran penting dalam membangun karakter manusia .

 


[1] Duane P. Schultz dalam edisi Parsi berjudul Nazariye ha sahsiyat oleh tim diketuai Yusuf Karimi. Hal 310

[2] Ibid hal 198

[3] Nasir Makarim Syirazi dalam Akhlak dalam Islam hal 38.

[4] Al-Qur’an Al-Karim surat Ra’d ayat 11.

[5] Mulla Mahdi Naraqi dalam Ilmu Akhlak Islami, terjemah oleh Jalaluddin Mujtabawi juz 1 hal 60.

[6] Kulaini dalam Al-Kafi hal 82

FacebookTwitterDiggDeliciousVZGoogle PlusXingLinkedInPinterestStumbleUponTumblr.



About Muhammad Taqiyyuddin Alawiy

- PENGASUH PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH NURUL HUDA MERGOSONO KECAMATAN KEDUNGKANDANG KOTA MALANG - Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Islam Malang
This entry was posted in Makalah Agama Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply